Gempa Dini Hari di Pacitan, Ahli Ingatkan Waspada Megathrust

  • 06 Feb 2026 20:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan gempa yang mengguncang Pacitan pada Jumat, 6 Februari 2026 dini hari, terjadi pada zona subduksi. Zona ini merupakan pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

“Gempa ini bagian dari siklus pelepasan energi yang wajar,” ujar Nuraini, dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jumat, 6 Februari 2026. Menurutnya, lempeng tersebut selama ini bergerak sekitar tujuh sentimeter per tahun di selatan Jawa.

Nuraini menegaskan gempa Pacitan dini hari tadi belum tentu menjadi gempa pembuka megathrust. Namun ia mengingatkan potensi gempa besar hingga magnitudo 9 tetap ada.

Ia mengatakan gempa besar dapat memicu tsunami, seperti peristiwa pada 1994. Saat itu, gempa terjadi di Pacitan dan memicu tsunami dari Pacitan hingga Banyuwangi.

“Saya sepakat dengan BMKG, gempa megathurst ini tinggal menunggu waktu. Karena energinya sudah terkumpul,” ujarnya.

Namun, ia tidak bisa memastikan kapan waktunya. “Bisa saja energinya lepas sedikit demi sedikit, seperti gempa tadi pagi,” kata Nuraini.

Ia mengingatkan agar pemerintah menyiapkan peta rawan tsunami. Agar masyarakat dapat memahami risiko tempat tinggalnya.

Mitigasi utama, menurut Nuraini, adalah menyiapkan bangunan tahan gempa dan kesiapsiagaan masyarakat pesisir. “Jika terjadi tsunami kita tahu mau lari kemana,” katanya.

Diketahui, gempa bermagnitudo 6,4 mengguncang Pacitan, Jumat, 6 Februari 2026, dini hari. BMKG menyebut gempa itu berasal dari zona megathrust selatan Jawa.

Episenter gempa berada di laut tenggara Pacitan dengan kedalaman 58 kilometer. Gempa terjadi pukul 01.06 WIB dan tidak berpotensi tsunami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....