Euforia Makanan Manis, Waspadai Dampaknya setelah Lebaran

  • 25 Mar 2026 18:57 WIB
  •  Gunung Sitoli
Poin Utama
  • Kue lebaran
  • Dampak makanan manis

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Momen setelah Lebaran kerap masih diwarnai dengan aneka kue dan minuman manis. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat asupan gula meningkat, tidak hanya dalam beberapa hari, tetapi bisa berlanjut hingga berminggu-minggu setelah Lebaran berlalu.

Peningkatan konsumsi gula tersebut tidak hanya berdampak pada kenaikan berat badan, tetapi juga memengaruhi kondisi tubuh secara menyeluruh. Dalam jangka pendek, gula memang mampu memberikan dorongan energi secara cepat. Namun, efek ini biasanya diikuti penurunan yang membuat tubuh terasa lebih mudah lelah.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Gula juga memengaruhi kerja otak melalui pelepasan dopamin, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Respons ini membuat seseorang terdorong untuk kembali mengonsumsi makanan manis, sehingga kebiasaan tersebut dapat berulang tanpa disadari.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, pola ini dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, seperti obesitas dan diabetes. Selain itu, konsumsi gula berlebih juga dapat memicu peradangan dalam tubuh yang berdampak pada kesehatan kulit, termasuk munculnya jerawat.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan asupan gula harian tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan energi, atau sekitar 50 gram per hari untuk orang dewasa. Namun, dalam praktiknya, batas ini kerap terlampaui selama masa perayaan.

Meski demikian, makanan manis tidak perlu dihindari sepenuhnya. Yang terpenting adalah mengatur jumlah konsumsi serta kembali pada pola makan seimbang setelah perayaan usai.

Pada akhirnya, menikmati hidangan manis saat Lebaran merupakan hal yang wajar. Namun, di balik kenikmatannya, terdapat batas yang perlu dijaga agar kesehatan tetap terpelihara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....