Mengajarkan Kemandirian Menjadi Kunci Masa Depan Penyandang Autisme

  • 18 Jul 2026 15:37 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kemandirian menjadi bekal utama bagi penyandang autisme untuk menghadapi kehidupan setelah lulus dari sekolah. Orang tua diimbau mulai melatih kemampuan bantu diri sejak usia dini agar penyandang autisme mampu menjalani aktivitas sehari-hari dan lebih siap menghadapi dunia pendidikan maupun pekerjaan.

Pemilik Sekolah Anak Autis dan Special Need Dalta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso, saat dialog bersama RRI Madiun mengatakan keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari kemampuan akademik atau komunikasi anak, tetapi juga dari sejauh mana mereka mampu mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.

Menurutnya, berbagai jenis terapi yang dijalani penyandang autisme, mulai dari terapi perilaku, terapi bicara hingga terapi sensori integrasi, selalu menempatkan aspek kemandirian sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.

"Aspek kemandirian harus diajarkan sejak anak masih kecil. Anak perlu dibiasakan makan sendiri, minum sendiri, memakai alas kaki sendiri, merapikan mainan setelah digunakan, menyapa orang lain, hingga berjalan tanpa selalu digandeng selama situasinya aman. Tujuannya supaya ketika mereka tumbuh menjadi remaja dan dewasa, mereka mampu mengurus dirinya sendiri dan tidak selalu bergantung kepada orang tua ataupun pendamping," kata Arif dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Madiun belum lama ini.

Arif menjelaskan, orang tua sering kali terlalu melindungi anak penyandang autisme karena rasa khawatir. Padahal, kebiasaan selalu membantu anak justru dapat menghambat tumbuhnya rasa percaya diri dan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Ia mencontohkan salah satu penyandang autisme yang telah lulus kuliah namun masih mengalami kesulitan memasuki dunia kerja karena sejak kecil hampir seluruh aktivitasnya selalu dibantu oleh pengasuh dan keluarga.

"Kami pernah mendampingi penyandang autisme yang sudah lulus kuliah. Dari sisi akademik tidak ada masalah, dia bisa mengurus rumah, memasak, dan menyelesaikan kuliah. Tetapi ketika harus mencari pekerjaan, mengikuti wawancara, atau berinteraksi dengan banyak orang di lingkungan kerja, dia mengalami kesulitan. Setelah ditelusuri, sejak kecil hampir semua kebutuhannya selalu dilayani. Bukan berarti pola asuhnya salah, tetapi anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar mandiri dan melatih daya juangnya," jelasnya.

Arif menambahkan, orang tua tidak perlu bersikap keras dalam melatih kemandirian anak. Yang terpenting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan berbagai aktivitas sendiri, disertai pendampingan dan arahan secara bertahap. Lebih lanjut, Ia berharap orang tua menjadikan kemandirian sebagai prioritas utama sejak dini agar penyandang autisme memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, serta berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat secara lebih mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....