Pentingnya Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, Langkah Awal Cegah Stunting

  • 16 Jul 2026 19:04 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun adalah kunci utama dalam mencegah stunting pada anak.
  • Kekurangan gizi kronis merupakan penyebab paling dominan stunting, sehingga ibu hamil harus memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang termasuk zat besi, asam folat, dan kalsium.
  • Stunting berdampak jangka panjang pada perkembangan otak, kemampuan kognitif, prestasi belajar, dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung saat dewasa.
  • Intervensi sejak dini sebelum usia dua tahun memberikan hasil yang lebih optimal, meskipun penanganan setelah usia dua tahun masih memungkinkan tetapi dengan peluang perbaikan yang lebih terbatas.

RRI.CO.ID, Semarang – Pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi kunci utama dalam mencegah stunting pada anak. Periode yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun tersebut dinilai sangat menentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

Mahasiswa Ilmu Gizi Universitas Diponegoro (Undip), Arsela Diva Sabilla, mengatakan stunting disebabkan oleh berbagai faktor. Namun, kekurangan gizi kronis selama masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun menjadi penyebab yang paling dominan.

"Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan masa emas pertumbuhan anak. Jika pada periode tersebut kebutuhan gizi tidak terpenuhi dalam waktu yang lama, maka risiko stunting akan meningkat," kata Diva kepada RRI Semarang, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurutnya, upaya pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan dengan memenuhi kebutuhan gizi secara seimbang. Ibu hamil membutuhkan asupan energi, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, serta mineral penting seperti zat besi, asam folat, dan kalsium.

Selain mengonsumsi makanan bergizi, ibu hamil juga dianjurkan rutin mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan. Langkah tersebut penting untuk mencegah anemia sekaligus mendukung pertumbuhan janin secara optimal.

Diva menjelaskan, stunting tidak hanya menyebabkan tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan usianya. Kondisi tersebut juga berdampak pada perkembangan otak, kemampuan kognitif, prestasi belajar, hingga menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.

"Dalam jangka panjang, anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung," katanya.

Ia menambahkan, stunting masih memiliki peluang untuk diperbaiki apabila terdeteksi dan ditangani sejak dini, terutama sebelum anak berusia dua tahun. Setelah melewati usia tersebut, peluang mengejar pertumbuhan tetap ada, namun hasilnya tidak seoptimal pada masa 1.000 HPK.

"Semakin cepat dilakukan intervensi sebelum usia dua tahun, hasilnya akan lebih optimal. Setelah usia dua tahun tetap bisa ditangani, tetapi peluang perbaikan pertumbuhannya lebih terbatas," ujarnya.

Diva mengimbau para orang tua maupun calon orang tua untuk memenuhi gizi seimbang sejak sebelum dan selama kehamilan, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, serta melanjutkannya dengan MPASI yang beragam dan kaya protein hewani. Ia juga menekankan pentingnya imunisasi, pemberian vitamin sesuai anjuran, serta pemantauan rutin pertumbuhan anak di posyandu atau fasilitas kesehatan agar risiko stunting dapat dideteksi sedini mungkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....