Menonton TV setelah Sekolah Tak Selalu Berdampak Buruk bagi Anak
- 16 Jul 2026 18:31 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Kebiasaan anak menonton televisi atau layar setelah pulang sekolah kerap menjadi kekhawatiran orang tua. Namun, para ahli mengingatkan bahwa durasi menonton bukan satu-satunya faktor yang menentukan dampaknya terhadap perkembangan anak. Yang tidak kalah penting adalah konteks, tujuan, serta bagaimana orang tua mengelola waktu layar tersebut.
Dikutip dari Psychology Today, Dr. Claire Lerner menjelaskan bahwa ada kondisi tertentu ketika anak menghabiskan waktu sekitar dua jam di depan televisi setelah sekolah masih dapat menjadi bagian dari pola pengasuhan yang baik. Hal ini terutama berlaku ketika orang tua harus menyelesaikan pekerjaan, mengurus anggota keluarga lain, atau membutuhkan waktu untuk menyiapkan kebutuhan rumah tangga.
Menurutnya, orang tua tidak perlu merasa bersalah apabila sesekali mengandalkan televisi sebagai cara agar anak tetap tenang dan aman selama mereka menyelesaikan tanggung jawab lain. Pengasuhan yang baik bukan berarti harus selalu mendampingi anak setiap saat, melainkan mampu memenuhi kebutuhan anak secara konsisten dalam jangka panjang.
Meski demikian, penggunaan televisi tetap perlu disertai batasan yang jelas. Orang tua dianjurkan memilih tayangan yang sesuai dengan usia anak, menghindari konten yang mengandung kekerasan atau tidak sesuai perkembangan mereka, serta memastikan waktu menonton tidak mengganggu aktivitas penting seperti belajar, bermain aktif, makan bersama keluarga, maupun waktu tidur.
Selain memperhatikan durasi, kualitas interaksi setelah anak selesai menonton juga dinilai penting. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai tayangan yang ditonton, menanyakan bagian yang paling disukai, atau menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari. Cara ini dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan memahami informasi secara lebih baik.
Para ahli juga mengingatkan bahwa setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Ada orang tua yang bekerja dari rumah, bekerja dengan jam yang panjang, atau harus mengurus lebih dari satu anak. Karena itu, tidak ada aturan yang benar-benar sama untuk semua keluarga mengenai penggunaan layar.
Yang terpenting, waktu layar tidak menjadi pengganti utama interaksi dengan orang tua. Selama kebutuhan emosional anak tetap terpenuhi, mereka memiliki kesempatan bermain aktif, beristirahat cukup, serta mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga, penggunaan televisi secara bijak dapat menjadi salah satu bagian dari pengasuhan yang realistis.
Melalui pendekatan yang seimbang, orang tua diharapkan tidak hanya berfokus pada lamanya anak menonton televisi, tetapi juga pada kualitas pengasuhan secara keseluruhan. Dengan demikian, penggunaan layar dapat dikelola secara sehat tanpa mengabaikan tumbuh kembang anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....