Studi Ungkap Kurang Tidur Bisa Picu Berat Badan Naik

  • 08 Jul 2026 21:31 WIB
  •  Gorontalo
Poin Utama
  • CDC merekomendasikan orang dewasa usia 18-60 tahun tidur minimal 7 jam setiap malam untuk mendukung kesehatan fisik dan mental.
  • Studi Columbia University menemukan bahwa pengurangan tidur 80 menit setiap malam selama enam minggu menyebabkan kenaikan berat badan rata-rata 0,45 kilogram pada 100 peserta dewasa.
  • Peserta dengan tidur yang dipersingkat mengalami peningkatan waktu duduk rata-rata 17 menit per hari, dengan peningkatan hingga 30 menit pada pria dan perempuan pascamenopause.
  • Kurang tidur kronis dapat meningkatkan hormon ghrelin dan menurunkan hormon leptin, mengakibatkan risiko lebih tinggi untuk obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

RRI.CO.ID, Gorontalo - Kurang tidur ternyata dapat berdampak pada berat badan. Studi baru menemukan, pengurangan tidur ringan bisa membuat tubuh lebih pasif.

Temuan itu dirilis Columbia University Irving Medical Center pada Senin, 6 Juli 2026. Peneliti menyebut orang dewasa yang tidur lebih singkat mengalami kenaikan berat badan.

Dalam studi tersebut, peserta mengurangi tidur sekitar 80 menit setiap malam. Setelah enam minggu, berat badan mereka naik rata-rata satu pon atau sekitar 0,45 kilogram.

Penelitian ini melibatkan hampir 100 orang dewasa yang biasanya tidur tujuh sampai delapan jam. Mereka menjalani periode tidur normal dan periode tidur yang dipersingkat.

Selama tidur dipersingkat, peserta lebih banyak menghabiskan waktu dalam kondisi tidak aktif. Waktu duduk mereka meningkat rata-rata sekitar 17 menit setiap hari.

Pada pria dan perempuan pascamenopause, peningkatan waktu duduk mencapai hampir 30 menit. Kelompok ini juga lebih rentan mengalami kelebihan berat badan.

[bacajuga=1,2;title="Hindari Kebiasaan Ini agar Tidur Lebih Nyenyak Setiap Malam|Usia Bertambah, Suhu Kamar Jadi Penentu Tidur Nyenyak, Ini Penjelasannya";sumber="berita"]

Faris Zuraikat dari Columbia mengatakan, peserta tetap lebih pasif meski waktu terjaga mereka lebih panjang. Ia menilai kebiasaan duduk terlalu lama perlu diwaspadai.

“Ini penting, karena orang yang lebih banyak duduk memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis,” kata Zuraikat. Risiko itu mencakup obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Kenaikan satu pon dalam enam minggu mungkin terlihat kecil. Namun, peneliti mengingatkan dampaknya dapat bertambah bila kurang tidur berlangsung kronis.

Zuraikat menyebut pola dalam studi ini menyerupai kebiasaan banyak orang dewasa. Bila terjadi setahun, kurang tidur ringan dapat berdampak klinis pada berat badan.

Para peneliti memantau pola tidur dan aktivitas peserta memakai monitor pergelangan tangan. Mereka juga mengukur berat badan, lingkar pinggang, komposisi tubuh, dan hormon nafsu makan.

Studi ini memperkuat temuan sebelumnya tentang hubungan tidur dan kesehatan metabolik. Penelitian lama juga mengaitkan pembatasan tidur dengan peningkatan asupan energi.

CDC menyebut orang dewasa berusia 18 sampai 60 tahun perlu tidur tujuh jam atau lebih. Rekomendasi itu penting untuk mendukung kesehatan fisik dan mental.

Kurang tidur juga dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar. UCLA Health mencatat kurang tidur kronis dapat menaikkan ghrelin dan menurunkan leptin.

Pola makan sehat, olahraga, dan tidur cukup tetap menjadi kunci pengendalian berat badan. Harvard Health menyebut susu, ikan berlemak, jus ceri asam, dan kiwi berpotensi mendukung kualitas tidur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....