Magnesium Berpotensi Cegah Migrain, Harus Sesuai Anjuran Dokter

  • 27 Jun 2026 03:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Migrain merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling umum di dunia. Kondisi ini ditandai dengan sakit kepala berdenyut yang umumnya muncul di satu sisi kepala dan sering disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya, suara, maupun aroma tertentu. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kadar magnesium yang rendah di dalam tubuh berkaitan dengan meningkatnya risiko migrain.

Magnesium sendiri merupakan mineral esensial yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, mulai dari menjaga kerja saraf dan otot, mengatur tekanan darah, membantu produksi energi, hingga mendukung sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan sejumlah penelitian, suplementasi magnesium dinilai dapat membantu mencegah serangan migrain, terutama pada penderita migrain dengan aura atau gangguan penglihatan dan sensorik yang muncul sebelum sakit kepala terjadi.

Dikutip dari Health (health.com), magnesium diduga bekerja dengan beberapa mekanisme, seperti menghambat sinyal nyeri di otak, mencegah penyempitan pembuluh darah otak, mengurangi aktivitas saraf yang memicu aura, serta membantu mencegah migrain yang berkaitan dengan siklus menstruasi. Penelitian juga menemukan bahwa penderita migrain cenderung memiliki kadar magnesium lebih rendah dibandingkan orang yang tidak mengalami migrain.

Jenis suplemen yang paling sering digunakan untuk pencegahan migrain adalah magnesium oksida. Dosis awal yang umum direkomendasikan sekitar 400 miligram per hari dan dapat ditingkatkan hingga 600 miligram sesuai anjuran tenaga kesehatan. Namun, dosis tersebut melebihi batas asupan harian yang ditoleransi sehingga penggunaannya sebaiknya berada di bawah pengawasan dokter.

Meski relatif aman, konsumsi magnesium tetap memiliki risiko efek samping, seperti kram perut, mual, dan diare. Pada dosis yang terlalu tinggi, terutama pada lansia atau penderita gangguan ginjal, magnesium dapat menumpuk di dalam tubuh dan memicu kondisi serius seperti gangguan irama jantung, tekanan darah rendah, kelemahan otot, hingga henti jantung.

Selain itu, magnesium juga dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, seperti antibiotik, obat osteoporosis, diuretik, obat penurun asam lambung golongan proton pump inhibitor, serta beberapa obat penyakit jantung. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter diperlukan sebelum mengonsumsi suplemen magnesium, terutama bagi seseorang yang sedang menjalani pengobatan rutin.

Selain suplementasi, pencegahan migrain juga dapat dilakukan melalui pola hidup sehat. Di antaranya mengenali dan menghindari pemicu migrain, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, mencukupi kebutuhan cairan, mengurangi konsumsi alkohol, rokok, dan kafein, mengelola stres, serta menjaga kualitas tidur.

Para ahli menilai magnesium dapat menjadi salah satu pilihan dalam upaya pencegahan migrain karena memiliki risiko efek samping yang relatif rendah. Namun, penanganan migrain tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Karena itu, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar memperoleh terapi yang paling tepat dan menghindari penggunaan suplemen maupun obat secara berlebihan. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....