Berhenti Merokok Butuh Dukungan Medis dan Pendampingan

  • 09 Jun 2026 05:30 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, - Banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan berhenti merokok hanya bergantung pada kemauan dan tekad yang kuat. Namun, para ahli kesehatan menegaskan bahwa ketergantungan terhadap rokok merupakan bentuk adiksi kronis yang melibatkan perubahan fungsi sistem saraf di otak, sehingga tidak mudah dihentikan hanya dengan niat semata.

Dilansir dari Kompas.com, nikotin yang terkandung dalam rokok konvensional maupun rokok elektrik atau vape merupakan zat adiktif yang dapat memicu berbagai penyakit serius, termasuk kanker paru dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Kondisi ini membuat banyak perokok mengalami kesulitan saat mencoba menghentikan kebiasaan tersebut.

Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., MHPM., FISR., FAPSR, menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam proses berhenti merokok adalah munculnya gejala putus nikotin atau withdrawal syndrome. Nikotin dapat mencapai reseptor otak hanya dalam hitungan detik dan memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa nyaman.

Ketika seseorang berhenti merokok, tubuh akan kehilangan pasokan nikotin yang selama ini diterima secara rutin. Akibatnya, berbagai gejala seperti stres, mudah marah, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, nyeri otot, sakit kepala, hingga dorongan kuat untuk kembali merokok dapat muncul dan mengganggu proses penghentian kebiasaan tersebut.

Menurut Prof. Agus, keberhasilan berhenti merokok memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Selain mengatasi ketergantungan nikotin, seseorang juga perlu memperhatikan faktor perilaku dan lingkungan yang dapat memengaruhi keinginan untuk merokok kembali. Karena itu, metode yang menggabungkan berbagai pendekatan dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan kemauan pribadi.

Praktisi kesehatan sekaligus mantan perokok, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengungkapkan bahwa banyak perokok sebenarnya memiliki niat kuat untuk berhenti. Namun, dampak fisik dan psikologis akibat gejala putus nikotin sering kali membuat upaya tersebut gagal. Ia menilai perokok membutuhkan solusi yang terukur dan berbasis sains untuk meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok.

Salah satu metode yang direkomendasikan adalah Nicotine Replacement Therapy (NRT), yaitu terapi pengganti nikotin yang membantu mengurangi gejala putus nikotin dan keinginan untuk merokok kembali. Melalui kampanye nasional #SehatTanpaRokok yang digagas Kementerian Kesehatan bersama sejumlah mitra, masyarakat diharapkan semakin mudah mendapatkan edukasi, pendampingan, serta akses terhadap terapi resmi yang aman dan telah teruji untuk mendukung perjalanan berhenti merokok.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....