Masyarakat Diimbau Waspadai Peredaran Ikan Berformalin di Pasar

  • 24 Mei 2026 19:55 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Masyarakat diimbau lebih teliti saat membeli ikan di pasar untuk menghindari produk yang diduga mengandung formalin. Badan Karantina Indonesia melalui Deputi Karantina Ikan mengingatkan bahwa ikan berformalin dapat membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.

Melalui unggahan edukasi di akun resmi Instagram Deputi Karantina Ikan, dijelaskan konsumsi ikan berformalin dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Risiko yang ditimbulkan mulai dari iritasi lambung, alergi kronis, hingga meningkatkan potensi penyakit kanker.

Deputi Karantina Ikan juga membagikan sejumlah ciri fisik untuk membedakan ikan segar dan ikan yang diduga mengandung formalin. Salah satunya dapat dilihat dari kondisi mata ikan.

Ikan segar umumnya memiliki mata bening, cerah, dan sedikit menonjol. Sementara ikan berformalin cenderung memiliki mata kusam, pucat, keruh, serta terlihat cekung atau tenggelam.

Ciri lainnya dapat dilihat dari warna insang dan aroma ikan. Ikan segar memiliki insang berwarna merah cerah dengan bau amis khas laut yang segar, sedangkan ikan berformalin biasanya memiliki insang pucat atau kehitaman dengan aroma menyengat seperti bahan kimia.

Masyarakat juga diminta memperhatikan tekstur daging ikan sebelum membeli. Ikan segar memiliki daging kenyal dan kembali ke bentuk semula saat ditekan, sedangkan ikan berformalin cenderung keras, kaku, dan tidak elastis.

Selain itu, keberadaan lalat di sekitar ikan juga disebut dapat menjadi indikator sederhana. Ikan segar umumnya dihinggapi lalat pasar, sedangkan ikan yang mengandung formalin biasanya dihindari lalat karena aroma bahan kimia yang menyengat.

Badan Karantina Indonesia memastikan terus melakukan pengawasan terhadap lalu lintas produk perikanan agar mutu dan keamanan ikan tetap terjaga sebelum sampai ke masyarakat. Pengawasan tersebut dilakukan sesuai ketentuan karantina untuk memastikan produk ikan bebas dari hama, penyakit, dan bahan berbahaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....