Olahraga saat Puasa Tidak Selalu Efektif Membakar Lemak
- 27 Apr 2026 09:35 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor: Latihan dalam kondisi perut kosong atau yang dikenal sebagai fasted workout semakin populer di kalangan masyarakat modern, terutama melalui media sosial. Banyak yang meyakini metode ini mampu membakar lemak lebih cepat dan meningkatkan hasil kebugaran secara signifikan.
Secara fisiologis, anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena tubuh memang mengalami perubahan setelah berpuasa semalaman. Kadar insulin menurun dan cadangan energi dari makanan berkurang, sehingga tubuh cenderung memanfaatkan lemak sebagai sumber energi saat berolahraga.
Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa para ahli menekankan adanya perbedaan antara efek jangka pendek dan hasil jangka panjang dari kebiasaan ini. Perubahan cara tubuh menggunakan energi saat latihan belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan performa atau penurunan berat badan dalam jangka waktu lama.
Setelah berpuasa selama 8 hingga 12 jam, tubuh berada dalam kondisi metabolisme yang berbeda dibandingkan setelah makan. Cadangan glikogen di hati menurun dan kadar gula darah cenderung lebih rendah, yang memengaruhi cara tubuh menghasilkan energi selama aktivitas fisik.
Selain itu, hormon seperti adrenalin dan hormon pertumbuhan turut meningkat selama olahraga. Kondisi ini dapat membantu tubuh melepaskan asam lemak dari jaringan penyimpanan untuk digunakan sebagai bahan bakar.
Meski demikian, manfaat yang paling konsisten ditemukan adalah peningkatan pembakaran lemak selama sesi latihan berlangsung. Hal ini terjadi karena tubuh dipaksa menggunakan cadangan energi alternatif saat sumber energi utama dari makanan tidak tersedia.
akan tetapi, peningkatan pembakaran lemak saat berolahraga tidak selalu berarti penurunan lemak tubuh secara keseluruhan. Tubuh dapat menyesuaikan diri dengan cara meningkatkan rasa lapar atau menurunkan pembakaran energi di waktu lain.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya potensi peningkatan sensitivitas insulin dari latihan dalam kondisi puasa. Dampak ini dapat membantu pengaturan gula darah, meskipun hasilnya masih bervariasi dan belum sepenuhnya konsisten.
Di sisi lain, klaim bahwa latihan saat perut kosong dapat meningkatkan performa atau pembentukan otot belum didukung bukti kuat. Bahkan, kurangnya asupan energi sebelum latihan justru berpotensi menurunkan kualitas latihan, terutama pada aktivitas intensitas tinggi.
Latihan tanpa makan juga tidak cocok untuk semua orang. Atlet atau individu dengan kebutuhan energi tinggi cenderung mengalami penurunan performa dan pemulihan yang lebih lambat jika berolahraga dalam kondisi kekurangan bahan bakar.
Kelompok tertentu seperti penderita diabetes atau individu dengan riwayat gangguan pola makan perlu berhati hati terhadap metode ini. Risiko penurunan gula darah yang drastis atau dampak psikologis negatif dapat muncul jika tidak dikelola dengan baik.
Bagi yang tetap ingin mencoba, penting untuk menyesuaikan jenis latihan dengan kondisi tubuh. Latihan ringan dengan durasi singkat masih tergolong aman dilakukan tanpa makan, tetapi aktivitas berat sebaiknya didahului dengan asupan nutrisi yang cukup.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah menjaga hidrasi dan segera mengisi kembali energi setelah latihan. Asupan makanan setelah olahraga membantu tubuh pulih dan menggantikan nutrisi yang hilang.
Pada akhirnya, fasted workout bukanlah solusi instan untuk mencapai kebugaran optimal. Konsistensi berolahraga, pola makan seimbang, serta pemahaman terhadap kebutuhan tubuh tetap menjadi faktor utama dalam mencapai kesehatan yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....