Bahaya Tidur di Dekat Gawai dan Laptop

  • 14 Apr 2026 16:37 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kebiasaan tidur dengan gawai atau laptop yang masih menyala di dekat tubuh kini menjadi fenomena umum yang mengkhawatirkan. Paparan cahaya biru (blue light) yang dipancarkan oleh layar perangkat elektronik secara signifikan menghambat produksi hormon melatonin dalam tubuh.

Padahal, melatonin merupakan hormon kunci yang mengatur siklus tidur manusia secara alami. Akibatnya, kualitas tidur menurun drastis, sehingga seseorang seringkali merasa lelah meskipun sudah beristirahat cukup lama.

Menurut riset yang dipublikasikan dalam The Harvard Gazette, paparan cahaya buatan pada malam hari dapat mengganggu jam sirkadian tubuh yang berisiko memicu berbagai masalah kesehatan jangka panjang. Tubuh yang terpapar cahaya biru akan tetap merasa waspada karena otak menganggap kondisi tersebut masih siang hari. Hal ini tidak hanya memperlama waktu yang dibutuhkan untuk terlelap (sleep latency), tetapi juga mengurangi fase tidur dalam yang sangat krusial bagi pemulihan sel-sel tubuh.

Selain masalah cahaya, gawai yang diletakkan di dekat tempat tidur juga menimbulkan gangguan psikologis berupa "waspada berlebih" terhadap notifikasi. Keinginan untuk terus memeriksa media sosial atau pesan pekerjaan membuat otak sulit memasuki fase relaksasi total.

Kondisi stres digital ini memicu peningkatan hormon kortisol yang justru bersifat merangsang kewaspadaan. Tidur di depan laptop yang masih aktif seringkali membuat batas antara ruang istirahat dan ruang kerja menjadi kabur secara mental.

Dari sisi fisik, posisi tidur yang tidak ergonomis di depan laptop dapat menyebabkan ketegangan otot leher dan punggung kronis. Selain itu, World Health Organization (WHO) melalui International Agency for Research on Cancer sempat mengategorikan radiasi frekuensi radio dari perangkat nirkabel sebagai kemungkinan karsinogenik pada manusia. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan, meminimalkan paparan radiasi dengan menjauhkan perangkat saat tidur merupakan langkah preventif yang sangat dianjurkan oleh para ahli kesehatan global.

Dampak buruk lainnya adalah risiko gangguan metabolisme yang berujung pada obesitas dan diabetes tipe 2. Kurang tidur akibat gangguan gawai mengacaukan hormon pengatur rasa lapar, yaitu leptin dan ghrelin, yang membuat seseorang cenderung ingin mengonsumsi makanan tinggi kalori di hari berikutnya. National Sleep Foundation menekankan kebersihan tidur (sleep hygiene) yang buruk akibat gangguan elektronik berkontribusi besar pada penurunan fungsi kognitif dan daya ingat seseorang dalam aktivitas sehari-hari.

Untuk menjaga kesehatan secara optimal, sangat penting untuk menerapkan zona bebas teknologi di area tempat tidur. Para ahli menyarankan untuk mematikan seluruh perangkat elektronik setidaknya 30 hingga 60 menit sebelum waktu tidur.

Dengan menjauhkan laptop dan gawai dari jangkauan tangan, tubuh diberikan kesempatan untuk melakukan detoksifikasi digital dan sinkronisasi ulang jam biologis. Investasi pada kualitas tidur hari ini adalah kunci utama produktivitas dan kebugaran jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....