Cara Efektif Atasi Anak yang Susah Makan

  • 13 Apr 2026 14:00 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Fase anak susah makan kerap menjadi sumber stres bagi orang tua. Perasaan cemas, bingung, hingga frustrasi sering muncul ketika si kecil menolak makanan yang disajikan. Namun, kondisi ini sejatinya cukup umum terjadi, terutama pada anak usia 2 hingga 5 tahun, sehingga orang tua tidak perlu panik berlebihan.

Secara umum, penolakan makan pada anak berkaitan dengan fase perkembangan. Di usia balita, anak mulai menunjukkan kemandirian, termasuk dalam memilih makanan. Selain itu, laju pertumbuhan yang melambat setelah usia dua tahun membuat kebutuhan makan anak tidak sebesar sebelumnya, sehingga mereka tampak seperti kehilangan nafsu makan.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah rasa takut terhadap makanan baru atau yang belum familiar. Kondisi ini biasanya memuncak di usia dua tahun. Gangguan seperti penggunaan gadget, bermain, atau interaksi dengan saudara juga dapat mengalihkan fokus anak dari rasa lapar, sehingga waktu makan menjadi tidak optimal.

Selain faktor perilaku, masalah sensori dan medis juga dapat menjadi penyebab. Anak mungkin sensitif terhadap tekstur, aroma, atau rasa tertentu. Di sisi lain, kondisi kesehatan seperti Gastroesophageal Reflux Disease, infeksi, hingga anemia dapat menurunkan nafsu makan karena menimbulkan rasa tidak nyaman saat makan.

Jika tidak ditangani, kebiasaan makan yang buruk dapat berdampak serius. Anak berisiko mengalami kekurangan gizi, gangguan pertumbuhan, hingga menurunnya daya tahan tubuh. Bahkan, kondisi ini juga dapat memicu stres dalam keluarga dan memengaruhi perkembangan emosional anak.

Untuk mengatasi hal ini, orang tua disarankan menerapkan pola makan yang terstruktur. Menentukan jadwal makan yang konsisten, membatasi distraksi seperti televisi dan gadget, serta memberikan porsi kecil sesuai usia dapat membantu anak lebih nyaman saat makan. Pendekatan ini juga melatih anak mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami.

Penting pula bagi orang tua untuk menghindari tekanan, ancaman, atau paksaan. Sebaliknya, libatkan anak dalam proses memilih makanan, memasak sederhana, hingga memberi pilihan sehat. Orang tua juga perlu menjadi contoh dengan mengonsumsi makanan bergizi di depan anak.

Jika anak terus menunjukkan penolakan ekstrem terhadap makanan, mengalami penurunan berat badan, atau menunjukkan tanda masalah kesehatan, konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah yang tepat. Dengan pendekatan yang tepat dan kesabaran, fase susah makan ini dapat dilalui tanpa menimbulkan dampak jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....