Didistribusi Dokter Spesialis di Indonesia Masih Timpang
- 25 Feb 2026 19:56 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ketimpangan distribusi dokter spesialis masih menjadi persoalan serius dalam sistem kesehatan Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar.
Sementara itu, banyak daerah, termasuk wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal, masih kekurangan tenaga medis dengan kompetensi spesialis. Presiden Prabowo Subianto bahkan menargetkan pencetakan 70.000 dokter spesialis baru dalam sepuluh tahun ke depan.
| Baca juga: Penyakit Campak bisa Menyerang Segala Usia |
Namun, tanpa kebijakan distribusi yang tepat, peningkatan jumlah dokter spesialis berpotensi tidak menyelesaikan persoalan ketimpangan layanan kesehatan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) merespons tantangan tersebut.
Tidak hanya dengan membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), tetapi juga dengan merancang sistem distribusi lulusan sejak tahap awal pendidikan. Wakil Rektor UMY Profesor Faris Al-Fadhat menegaskan, penyelenggaraan PPDS di UMY sejak awal diarahkan untuk memberikan dampak sosial yang nyata.
”Bukan sekadar menambah jumlah lulusan dokter spesialis,” katanya, Rabu 25 Februari 2026. ”Masalah utama kita hari ini bukan hanya kekurangan dokter spesialis, tetapi juga pola distribusinya yang sangat timpang.”
Saat ini, UMY telah mengelola sebanyak 12 Program Pendidikan Dokter Spesialis. Termasuk PPDS Ilmu Kesehatan Mata dan Neurologi yang baru saja memperoleh izin dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Namun, menurut Faris, fokus utama UMY bukan hanya pada pembukaan program studi. Namun pada kehadiran lulusan PPDS di wilayah yang memang benar-benar membutuhkan layanan kesehatan spesialis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....