Video Game dan Psikologi Anak: Manfaat dan Risiko
- 19 Feb 2026 16:52 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Perkembangan video game yang begitu pesat memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat apakah game berdampak buruk bagi anak dan remaja, atau justru membawa manfaat. Dalam Obrolan SPADA Pro 2 Pekanbaru bersama Anandhika Agus Saputra, seorang Psikolog Pendidikan dan Alumni Fakultas Psikologi UIN SUSKA Riau pada Selasa 17 Februari 2026, mengatakan video game ibarat koin dengan dua sisi positif dan negatif.
Secara psikologis, game bukan kebutuhan utama, melainkan bentuk hiburan. Namun, ketika tidak ada kontrol dan regulasi, dampaknya bisa meluas pada aspek emosional dan sosial anak. Anak-anak dan remaja cenderung lebih rentan karena kemampuan kontrol diri mereka belum seoptimal orang dewasa.
Game kompetitif seperti Mobile Legends: Bang Bang atau PUBG: Battlegrounds seringkali memicu emosi lebih intens. Sistem kemenangan seperti “double kill” atau “victory” merangsang pelepasan dopamin di otak hormon yang menimbulkan rasa senang dan puas.
Jika terjadi terus-menerus, anak bisa terdorong untuk bermain berulang demi mengejar sensasi yang sama. Inilah yang berpotensi menimbulkan kecanduan.
Dampak negatif yang sering muncul antara lain menarik diri dari lingkungan sosial, mengabaikan tugas sekolah, hingga gangguan emosi seperti mudah marah. Namun di sisi lain, game kompetitif juga bisa melatih kerja sama tim, komunikasi, perencanaan strategi, dan pengambilan keputusan.
Sementara itu, game bertipe storytelling atau petualangan seperti It Takes Two atau Stray cenderung mendorong empati, kreativitas, serta kemampuan problem solving. Anak belajar memahami alur cerita, membangun strategi, dan mengembangkan imajinasi.
Kuncinya bukan pada gamenya semata, tetapi pada pendampingan dan durasi. Rata-rata rekomendasi waktu bermain untuk anak di atas 6 tahun adalah sekitar 1,5–2 jam per hari, dengan total mingguan yang tetap terkontrol. Tanpa batasan, risiko dampak negatif akan lebih besar.
Dengan kontrol yang tepat, video game bisa menjadi sarana belajar dan hiburan yang sehat. Namun tanpa pengawasan, ia berpotensi mengganggu perkembangan emosional dan sosial anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....