Cegah DB, Puskesmas Sukoharjo, Ajak Mahasiswa FK UMS Untuk Edukasi
- 13 Feb 2026 08:39 WIB
- Surakarta
RRI. CO. ID, Sukoharjo - Guna menekan kasus Demam Berdarah, Puskesmas Sukoharjo gencar melakukan pantauan kerumah warga.
Tidak hanya melibatkan personil di lingkungan Puskesmas Sukoharjo namun juga melibatkan pihak lainya, diantaranya dokter muda dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Dari pantauan yang dilakukan Tim Puskesmas Sukoharjo, masih ditemukannya tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti bak mandi, ember, vas bunga, hingga barang bekas yang menampung air hujan.
Karena itu, pihak Puskesmas terus mendorong masyarakat untuk disiplin menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.
“Dari pantauan yang kami lakukan, masih banyak kami temukan tempat yang berpotensi berkembangnya nyamuk. Pantauan ini tidak hanya untuk melihat keberadaan jentik, tetapi juga sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Kami menggandeng Dokter Muda UMS agar ada sinergi antara layanan kesehatan dan dunia pendidikan, sekaligus menambah tenaga dalam kegiatan survei lapangan,” ujar Kepala Puskesmas Sukoharjo, dr Kunari Mahanani, Kamis 12 Februari 2026.
Lebih lanjut disampaikan kasus demam berdarah di kecamatan Sukoharjo relative masih tinggi.
Pihaknya mencatat untuk tahun 2025 terdatat kasus demam dengue (DD) 546 kasus, Demam Berdarah Dengue (DBD) tercatat 122 kasus dan Dengue Shock Syndrome (DSS) 2 kasus.
Sedangkan untuk tahun 2026 data terakhir menyebut kasus demam dengue (DD) 15 kasus, Demam Berdarah Dengue (DBD) tercatat 2 kasus.
“Jika dilihat data yang ada kasusnya masih tinggi sehingga upaya edukasi dan sosialisasi dan edukasi semaki gencar kami lakukan. Dan yang terlibat tidak hanya personil puskesmas tapi juga dibantu pihak lain, diantaranya mahasiswa kedokteran UMS,” kata dia.
Lebih lanjut dr. Kunari menyampaikan, selain memberikan sosialisasi dan edukasi kepada warga, dalam kesempatan yang sama di berikan spray ramuan herbal anti nyamuk.
Spray tersebut berbahan herbal yang dibuat oleh mahasiswa kedokteran UMS untuk kemudian dibagikan gratis kepada warga.
“Kami turun kerumah warga langsung terutama di wilayah dengan kasus DB tinggi. Terlebih Angka Bebas Jentik kita saat ini masih 85 persen. Artinya, masih ada rumah atau tempat umum yang ditemukan jentik nyamuk saat pemeriksaan. Idealnya, ABJ harus di atas 95 persen agar risiko penularan DBD bisa ditekan,” katanya.
Salwa Ghasani, salah satu mahasiswi UMS mengatakan, spray anti nyamuk yang diberikan kepada warga ini dibuat dengan bahan alami, diantaranya dari serai dan alkohol. Keduanya direbus kemudian diambil airnya lalu dimasukan botol spray.
“Selain memberikan edukasi dan sosialisasi kami juga memberikan spray alami anti nyamuk. Kami berikan ini gratis ke warga dan kami juga memberikan pelatihan pembuatan spray anti nyamuk,” imbuhnya. (Edwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....