Memahami Sindrom Peter Pan dalam Kehidupan
- 12 Feb 2026 11:25 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Tidak sedikit orang dewasa yang secara usia telah matang, namun enggan memikul tanggung jawab. Mereka menghindari komitmen, menunda kemandirian, dan menggantungkan kebutuhan hidup pada orang lain. Dalam psikologi populer, fenomena ini dikenal sebagai sindrom Peter Pan, istilah yang menggambarkan individu dewasa yang menolak sepenuhnya hidup di dunia orang dewasa.
Istilah tersebut terinspirasi dari tokoh fiksi Peter Pan karya J.M. Barrie—anak laki-laki yang memilih untuk tidak pernah tumbuh dewasa. Psikolog Dan Kiley pertama kali memperkenalkannya melalui buku Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up (1983). Berdasarkan pengalamannya menangani remaja laki-laki bermasalah, Kiley menemukan pola yang berlanjut hingga usia dewasa: kesulitan menerima peran, tanggung jawab, dan tuntutan kehidupan matang. Meski demikian, sindrom ini bukan diagnosis klinis resmi, melainkan istilah deskriptif atas pola perilaku tertentu.
Secara umum, sindrom Peter Pan merujuk pada penolakan untuk mandiri dan membangun hubungan yang setara. Gejalanya beragam, mulai dari enggan mencari atau mempertahankan pekerjaan, hingga tidak berkontribusi dalam rumah tangga meski telah berkeluarga. Dalam banyak kasus, individu dengan pola ini sangat bergantung pada pasangan atau orang tua untuk urusan finansial dan tanggung jawab sehari-hari.
Ketergantungan tersebut kerap berlangsung tanpa timbal balik yang seimbang. Seseorang mungkin terus menerima dukungan emosional maupun materi, tetapi enggan memberi kontribusi setara. Dalam hubungan romantis, pola ini menciptakan dinamika tidak sehat: satu pihak menjadi “pengasuh”, sementara pihak lain menghindari tanggung jawab. Relasi yang timpang ini berisiko memicu konflik berkepanjangan.
Para psikolog menilai tidak ada satu penyebab tunggal di balik fenomena ini. Faktor sosial dan peran gender kerap disebut berpengaruh. Dalam banyak budaya, perempuan masih disosialisasikan untuk mengurus rumah tangga dan pekerjaan emosional. Situasi tersebut secara tidak langsung dapat memberi ruang bagi pasangan laki-laki untuk melepaskan diri dari sebagian tanggung jawab domestik.
Kecemasan menghadapi tuntutan hidup dewasa juga menjadi faktor penting. Tanggung jawab finansial, sosial, dan emosional bisa terasa berat. Ketika individu merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, menghindar menjadi mekanisme pertahanan yang dianggap lebih aman, terutama jika tersedia “jaring pengaman” berupa orang tua yang terus menopang atau pasangan yang mengambil alih beban.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa kedewasaan tidak bisa diukur secara tunggal. Faktor budaya dan ekonomi turut memengaruhi. Di sejumlah masyarakat, tinggal bersama orang tua hingga dewasa adalah hal wajar. Survei di Amerika Serikat pada 2013 bahkan menunjukkan generasi muda mencapai kemandirian finansial lebih lambat dibanding generasi sebelumnya akibat perubahan pasar kerja dan melonjaknya biaya hidup. Karena itu, tidak semua orang dewasa yang belum mandiri otomatis mengalami sindrom Peter Pan. Pada akhirnya, kedewasaan bukan semata soal usia atau tempat tinggal, melainkan keberanian bertanggung jawab atas pilihan hidup dan membangun hubungan yang saling menghargai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....