IDAI: Waspadai Virus Nipah, Hidup Bersih Sehat Kunci Pencegahan
- 31 Jan 2026 08:56 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap virus Nipah yang belakangan mulai banyak dipertanyakan publik. Meski belum ditemukan di Indonesia, virus zoonosis ini dinilai memiliki tingkat kematian yang tinggi sehingga perlu mendapat perhatian serius.
“Virus Nipah adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama dari kelelawar, namun juga bisa melalui babi dan hewan ternak lainnya,” ujar Piprim saat membuka diskusi bersama pakar IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, Jumat, 30 Januari 2026.
Menurut dr. Piprim, tingginya angka kematian menjadi alasan utama virus Nipah menimbulkan kekhawatiran. Tingkat fatalitas penyakit ini bahkan dapat mencapai 75 persen.
“Artinya, dari empat orang yang terinfeksi, bisa tiga orang meninggal. Ini tentu penyakit yang serius, apalagi sampai saat ini belum tersedia obat maupun vaksin,” tegasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak panik berlebihan. Pencegahan paling utama, kata dr. Piprim, adalah penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Kunci dari semua penyakit infeksi adalah PHBS. Ini menjadi benteng utama kita karena belum ada terapi spesifik untuk virus Nipah,” katanya.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat, khususnya anak-anak, yang mengonsumsi buah-buahan yang telah digigit atau dijatuhkan kelelawar. Kebiasaan tersebut dinilai berisiko menularkan virus jika hewan pembawa terinfeksi Nipah.
“Buah yang bekas dimakan kelelawar sebaiknya tidak dikonsumsi. Orang tua perlu meningkatkan pengawasan dan edukasi kepada anak-anak,” jelasnya.
Selain itu, dr. Piprim mendorong masyarakat untuk segera melaporkan jika menemukan kematian mendadak pada hewan liar maupun hewan ternak. Menurutnya, kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mencegah penularan penyakit zoonotik.
Meski sebagian besar kasus Nipah dilaporkan menyerang orang dewasa usia produktif, anak-anak tetap memiliki risiko tertular. Oleh karena itu, IDAI menekankan pentingnya peningkatan kesadaran tanpa menimbulkan kepanikan massal.
“Kita tidak perlu panik, tetapi harus waspada. Edukasi kepada masyarakat menjadi tugas penting agar anak-anak dan keluarga tetap terlindungi,” ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....