Greenwashing Marak, Mahasiswa Ajak Publik Lebih Kritis

  • 17 Jul 2026 19:40 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Greenwashing adalah strategi komunikasi atau pemasaran yang membuat produk, merek, maupun organisasi terlihat peduli lingkungan tanpa didukung tindakan nyata yang sebanding.
  • Praktik greenwashing dinilai dapat menyesatkan masyarakat karena menampilkan citra ramah lingkungan yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
  • Mahasiswa Universitas Diponegoro dari Program Studi Informasi dan Humas Vokasi turut menjelaskan fenomena greenwashing yang semakin banyak mendapat perhatian publik di berbagai platform media.

RRI.CO.ID, Semarang - Isu lingkungan semakin banyak mendapat perhatian publik, termasuk munculnya istilah greenwashing yang belakangan sering dibahas di berbagai platform media. Praktik ini dinilai dapat menyesatkan masyarakat karena menampilkan citra ramah lingkungan yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Mahasiswa Informasi dan Humas Vokasi Universitas Diponegoro, Elfrida Amara Eliana dan Aimee Putri Marenda, menjelaskan bahwa greenwashing merupakan strategi komunikasi atau pemasaran yang membuat suatu produk, merek, maupun organisasi terlihat peduli lingkungan tanpa didukung tindakan nyata yang sebanding.

Menurut mereka, praktik greenwashing biasanya dilakukan untuk menarik perhatian konsumen yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan. "Saat ini banyak masyarakat yang mulai peduli lingkungan, sehingga isu tersebut sering dimanfaatkan sebagai strategi komunikasi maupun pemasaran untuk membangun citra positif," ujar Ara, panggilan dari Elfrida Amara Eliana di SPADA PRO2 FM RRI Semarang, Jumat 17 Juli 2026.

Mereka menyebut salah satu contoh yang kerap dikaitkan dengan praktik greenwashing adalah industri fast fashion. "Tidak semua merek fast fashion melakukan greenwashing, tetapi masyarakat perlu lebih kritis ketika melihat klaim ramah lingkungan yang hanya ditampilkan pada sebagian kecil produk," ujar Ara.

Beberapa merek pakaian menampilkan kampanye ramah lingkungan atau koleksi berbahan daur ulang, namun masih menjalankan produksi massal yang berpotensi menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Karena itu, masyarakat perlu melihat komitmen perusahaan secara menyeluruh dan tidak hanya terpaku pada label yang ditampilkan.

Dari sudut pandang komunikasi, pesan greenwashing sering mudah dipercaya karena memanfaatkan kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan. Penggunaan warna hijau, gambar alam, serta istilah seperti "eco-friendly" dan "ramah lingkungan" mampu membangun persepsi positif di benak publik.

Dalam perkembangan saat ini, media sosial memiliki peran besar dalam menyebarkan maupun membongkar praktik greenwashing. Informasi dapat dengan cepat tersebar luas, namun di sisi lain publik juga memiliki kesempatan untuk melakukan pengecekan dan berbagi temuan terkait klaim lingkungan yang diragukan.

Menurut Ara dan Aimee, generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis saat menerima informasi di internet. Mereka tidak hanya perlu melihat pesan promosi yang disampaikan, tetapi juga mencari sumber pendukung dan membandingkan informasi dari berbagai referensi yang kredibel.

Jika masyarakat terus percaya pada praktik greenwashing, dampaknya tidak hanya merugikan konsumen tetapi juga menghambat upaya pelestarian lingkungan yang sesungguhnya. Karena itu, Ara dan Aimee mengajak untuk menjadi konsumen yang lebih bijak dengan memeriksa fakta di balik setiap klaim ramah lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....