Wagub Usul Vokasi Dikenalkan Sejak SMP, Siswa Bisa Tentukan Karier Lebih Awal

  • 17 Jul 2026 12:10 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengusulkan agar pendidikan vokasi dikenalkan sejak jenjang SMP, bukan hanya dimulai dari SMK.
  • Pengenalan vokasi sejak dini akan membantu siswa memiliki gambaran yang lebih jelas dan proses belajar di SMK menjadi tahap penguatan kompetensi yang sudah dipilih sejak awal.
  • Pendidikan vokasi harus memiliki jalur berkelanjutan hingga perguruan tinggi dengan perluasan akses beasiswa bagi lulusan SMK dari keluarga kurang mampu.
  • Orientasi pendidikan vokasi perlu berubah untuk mempersiapkan lulusan tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan solusi bagi masyarakat.
  • Negara-negara maju telah mengenalkan pemetaan bakat sejak usia sekolah sehingga siswa dapat diarahkan ke jalur akademik atau vokasi sesuai kemampuan masing-masing.

RRI.CO.ID, Semarang - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengusulkan pendidikan vokasi mulai dikenalkan sejak jenjang SMP. Pengenalan yang lebih dini akan membantu peserta didik menentukan pilihan pendidikan dan karier yang lebih sesuai dengan potensinya.

"Kalau kita bicara tentang vokasi, harusnya tidak dimulai dari SMK. Akan tetapi, di bawahnya, yaitu di jenjang SMP," katanya saat membuka The 8th International Conference on Vocational Education Applied Science and Technology (ICVEAST) 2026 di Hotel Gumaya Semarang, Kamis, 16 Juli 2026.

Ia menjelaskan, siswa yang telah mengenal bidang vokasi sejak SMP akan memiliki gambaran yang lebih jelas ketika melanjutkan pendidikan ke SMK. Dengan demikian, proses belajar tidak lagi dimulai dari nol, tetapi menjadi tahap penguatan kompetensi yang sudah dipilih sejak awal.

Menurutnya, konsep tersebut sebenarnya telah mulai diterapkan di lingkungan madrasah, yakni di MTs Sains. Penerapan tersebut dapat dijadikan contoh bagaimana peserta didik mulai diarahkan pada bidang sains dan teknologi sejak jenjang pendidikan menengah pertama.

"Di Kementerian Agama sudah ada MTs Sains. Artinya sudah mulai diarahkan ke teknologi. Harusnya ada SMP-SMP yang juga mengarah ke vokasi, sehingga bisa berkesinambungan dengan SMK," ujarnya.

Selain pengenalan sejak dini, Gus Yasin menilai pendidikan vokasi harus memiliki jalur yang berkelanjutan hingga perguruan tinggi sebab tiga tahun pendidikan di SMK baru menjadi tahap dasar untuk mengenal dunia vokasi. Oleh karena itu, lulusan SMK perlu mendapat kesempatan untuk memperdalam keahlian melalui pendidikan diploma maupun sarjana terapan.

"Vokasi itu tidak selesai di jenjang SMK, harus dilanjutkan. Tiga tahun di SMK itu sebenarnya baru tahap pengenalan, pendalamannya harus ada di universitas melalui pendidikan vokasi," katanya.

Ia juga mendorong perluasan akses beasiswa bagi lulusan SMK, terutama dari keluarga kurang mampu. Dukungan tersebut penting agar keterbatasan ekonomi tidak menghambat peningkatan kompetensi generasi muda.

Gus Yasin menegaskan, orientasi pendidikan vokasi saat ini juga perlu berubah mengikuti perkembangan zaman. Lulusan tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja, tetapi juga harus mampu menciptakan inovasi dan solusi bagi masyarakat.

"Mindset-nya sudah bukan lagi kita menjadi pegawai atau buruh. Akan tetapi, bagaimana kita menciptakan sesuatu yang benar-benar bermanfaat," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Diponegoro, Wijayanto mengatakan sejumlah negara maju telah mengenalkan pemetaan bakat sejak usia sekolah. Melalui pendekatan tersebut, siswa dapat diarahkan ke jalur akademik atau vokasi sesuai kemampuan dan potensi masing-masing.

"Di sana vokasi bukan nomor dua. Mereka melakukan tes bakat sehingga anak-anak bisa dipetakan sesuai potensinya. Ada yang lebih cocok menjadi ilmuwan, ada yang lebih pas menjadi teknokrat. Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk membangun negara," ujarnya.

Menurut Wijayanto, pendekatan tersebut dapat menjadi referensi untuk memperkuat pendidikan vokasi di Indonesia. Dengan pemetaan bakat yang dilakukan lebih awal, siswa memiliki arah pengembangan kompetensi yang lebih jelas dan vokasi tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....