Etika dan Berpikir Kritis, Bekal Mahasiswa Hadapi Arus Informasi di Ruang Digital

  • 16 Jul 2026 12:47 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Literasi digital menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi arus informasi deras di media sosial dengan pemahaman etika dan kemampuan berpikir kritis.
  • Pengguna media sosial perlu memahami batasan etika dengan menghindari unggahan yang berpotensi merugikan atau menghina orang lain, bukan hanya menghafal peraturan hukum.
  • Mahasiswa harus mampu membedakan informasi benar, opini, dan hoaks serta melakukan verifikasi sebelum menyebarkan konten, karena setiap unggahan memiliki konsekuensi dan meninggalkan jejak digital.

RRI.CO.ID, Semarang – Literasi digital dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi derasnya arus informasi di media sosial. Pemahaman etika dan kemampuan berpikir kritis diperlukan untuk menciptakan ruang digital yang sehat.

Akademisi Hukum dari Universtas Katolik Soegijapranata Semarang , Dr. Marcella Elwina Simandjuntak, mengatakan masyarakat tidak harus menghafal seluruh isi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Namun, pengguna media sosial perlu memahami batasan etika sebelum mengunggah atau membagikan konten.

"Kalau dasarnya pada umumnya ya etika saja. Apa yang merugikan atau menghina orang lain sebaiknya dihindari," ujarnya, Selasa, 14 Juli 2026 .

Menurutnya, etika menjadi rambu utama dalam menggunakan media sosial. Pengguna perlu menghindari unggahan yang berpotensi merugikan maupun menghina orang lain.

“Pemahaman terhadap aturan hukum tetap penting. Hal itu membantu masyarakat memahami konsekuensi ketika terjadi pelanggaran di ruang digital,” jelasnya .

Sementara itu, Ketua LPM Mata Universitas Tidar, Muhammad Hilmy A, menilai literasi digital tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan media sosial. Mahasiswa juga perlu mampu berpikir kritis dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

"Mahasiswa harus bisa membedakan informasi yang benar, opini, maupun hoaks. Literasi digital membuat kita lebih bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial," katanya saat dikonfirmasi, Rabu 15 Juli 2026.

Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab menjadi pengguna media yang bijak, tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga penyebar informasi yang benar. Untuk itu LPM Mata berupaya meningkatkan literasi digital melalui produk jurnalistik dan pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa.

Ia juga menilai masih banyak mahasiswa membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Selain itu, sebagian pengguna media sosial masih menganggap ruang digital sebagai tempat yang bebas tanpa batas.

"Setiap unggahan memiliki konsekuensi dan meninggalkan jejak digital. Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan cek fakta dan berpikir kritis sebelum membagikan informasi," ucapnya.( Mg.Ind)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....