Nurul Hayat Gandeng BRIN Teliti Sedimen Banjir Aceh Jadi Bata-Ringan

  • 10 Jul 2026 20:44 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Nurul Hayat bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meneliti manfaat sedimen banjir di Aceh. Lumpur dan pasir tersebut, rupanya dapat diolah menjadi material bangunan berupa bata ringan dan bata merah.

Penelitian tersebut merupakan bagian dari kolaborasi bersama Forum Zakat (FOZ) dan Universitas Syiah Kuala (USK). Hasil kajian telah dipaparkan dalam Forum Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Provinsi Aceh di Aula Dinas Pertanahan dan Perkebunan Provinsi Aceh.

Ketua tim riset dari Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Abdullah, M.Sc, Jumat 10 Juli 2026 mengatakan, penelitian ini menjadi langkah inovatif untuk mendukung pemulihan pascabencana. Ia menilai, ide untuk menjadikan batu bata ringan itu adalah ide yang bagus.

“Karena batu bata ringan memudahkan pekerja bangunan bisa membangun dengan cepat. Sangat membantu untuk menyegerakan pemulihan,” ujarnya, di Surabaya.

Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh beberapa bulan lalu meninggalkan endapan lumpur dan pasir di permukiman warga, lahan pertanian, serta fasilitas umum. Material tersebut selama ini menjadi persoalan karena membutuhkan penanganan khusus setelah proses pengerukan.

“Melalui penelitian ini, kami ingin melihat bagaimana sedimen yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat terdampak,” katanya.

Tim peneliti telah mengambil sampel sedimen dari sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang. Hasil analisis awal menunjukkan karakteristik sedimen berbeda di setiap daerah sehingga diperlukan metode pengolahan yang sesuai dengan kondisi material masing-masing.

“Dari hasil pengujian awal, sedimen banjir memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan pembuatan bata ringan dan bata merah, tetapi tetap membutuhkan kajian lanjutan agar kualitas material sesuai dengan standar yang dibutuhkan,” jelasnya.

Dalam penelitian lanjutan, Desa Meunasah Mancang dan Desa Dayah Husin di Kabupaten Pidie Jaya ditetapkan sebagai lokasi prioritas pengembangan. Kedua wilayah tersebut dinilai memiliki karakteristik material yang mendukung serta mendapat respons positif dari masyarakat terhadap rencana pemanfaatan sedimen.

“Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan organisasi kemanusiaan sangat penting agar inovasi ini tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diterapkan untuk membantu percepatan rekonstruksi,” ujarnya.

Selain aspek teknis, para pemangku kepentingan juga membahas tantangan regulasi dalam penerapan inovasi tersebut. Dukungan kebijakan diperlukan agar pemanfaatan sedimen pascabencana dapat berjalan optimal sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sedimen pascabencana yang dapat diterapkan di daerah lain. Dengan mengolah lumpur dan pasir sisa banjir menjadi material bangunan, proses pemulihan diharapkan tidak hanya membersihkan dampak bencana, tetapi juga menciptakan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....