AI Mulai Gantikan Peran Penagih Utang

  • 17 Jun 2026 08:57 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini mulai merambah sektor penagihan utang, sebuah bidang yang selama ini identik dengan pekerjaan manusia. Teknologi agen AI mulai digunakan oleh sejumlah perusahaan untuk menghubungi debitur yang terlambat membayar kewajiban finansial mereka, menandai pergeseran besar dalam industri jasa keuangan global.

Di Amerika Serikat, tekanan ekonomi akibat inflasi tinggi dan meningkatnya kesulitan lapangan kerja membuat nilai utang masyarakat berada pada level yang sangat tinggi. Kondisi ini turut memicu kenaikan angka keterlambatan pembayaran kredit, sehingga perusahaan penagihan mencari cara yang lebih efisien melalui otomatisasi berbasis AI.

Mengutip laporan Futurism yang dipublikasikan pada 2026 dalam artikel “AI Debt Collectors Are Already Calling People and It’s Getting Weird” mengungkap salah satu kasus penggunaan agen suara AI bernama “Eve” yang dioperasikan oleh perusahaan penagihan ProCollect. Seorang warga Seattle bernama Ben menerima panggilan terkait dugaan utang sebesar 226 dolar AS atau sekitar Rp4 juta, meski ia mengklaim telah melunasi kewajibannya.

Dalam percakapan tersebut, sistem AI terus mengulang pertanyaan yang sama mengenai metode pembayaran tanpa memberikan akses langsung ke petugas manusia. Hal ini menunjukkan keterbatasan teknologi AI dalam menangani kasus yang membutuhkan klarifikasi dan penanganan berbasis konteks manusia.

Setelah beberapa upaya, panggilan akhirnya diteruskan ke staf manusia. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa tagihan tersebut memang sudah dilunasi dan terjadi kesalahan data dalam sistem penagihan, sehingga kasus tersebut seharusnya tidak perlu ditindaklanjuti.

Menurut Pedro Fernández, pendiri perusahaan layanan panggilan berbasis AI Altur, industri penagihan utang menjadi salah satu sektor yang paling cepat mengadopsi teknologi agen AI. Perusahaannya bahkan telah memproses lebih dari 2,5 juta panggilan penagihan setiap bulan menggunakan sistem otomatis tersebut, meski masih menghadapi tantangan terkait akurasi data dan kualitas database utang.

Penggunaan AI dalam penagihan utang dinilai meningkatkan efisiensi perusahaan, namun juga memunculkan risiko kesalahan data, salah sasaran, dan potensi ketidakadilan bagi debitur jika tidak diawasi dengan ketat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....