Inovasi MTsN Semarang, Kumpulkan Sisa Sampah MBG untuk Budidaya Maggot

  • 30 Mei 2026 15:31 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • MBG

RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang – Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Semarang di Kabupaten Semarang membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat diubah menjadi sumber energi alternatif. Melalui inovasi budidaya maggot dari sisa sampah Makan Bergizi Gratis(MBG) hingga pemanfaatan limbah menjadi biogas, madrasah ini sukses mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis lingkungan.

Kepala MTsN Semarang, Muh Muslimin, menegaskan seluruh ekosistem pengelolaan sampah tersebut dibangun untuk membentuk karakter siswa agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, menjaga bumi merupakan bagian dari ibadah dan budaya hidup yang harus ditanamkan sejak dini.

“Hari ini, kami juga resmi meluncurkan Podcast MTsN Semarang. Sebagai syiar digital untuk menyebarluaskan virus kebaikan lingkungan ini ke sekolah-sekolah lain," ujar Muslimin saat peluncuran podcast MTsN Semarang, Sabtu, 30 Mei 2026.

Status sebagai Madrasah Adiwiyata tak sekadar menjadi simbol di lingkungan sekolah. MTsN Semarang mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan pendidikan karakter dan nilai spiritual melalui gerakan ecotheology, yakni upaya menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah.

Ia menjelaskan, pihak sekolah ingin siswa memahami bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. “Status Madrasah Adiwiyata yang kami sandang bukan sekadar plakat di dinding, tapi budaya hidup,” katanya.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah budidaya maggot (Black Soldier Fly) yang bermula dari penelitian siswa untuk ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Kini, inovasi tersebut berkembang menjadi unit produksi mandiri yang mengolah sampah organik dari dapur boarding school dan sisa konsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sampah organik tersebut dimanfaatkan sebagai pakan utama maggot yang dikenal mampu mengurai limbah secara cepat dan efisien. Hasil budidaya kemudian dipasarkan dalam dua bentuk, yakni maggot basah untuk kebutuhan peternakan dan perikanan serta maggot kering (dried maggot) yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Tak berhenti pada sampah organik, MTsN Semarang juga mengembangkan pengolahan sampah plastik menjadi energi alternatif. Melalui proses pirolisis, plastik dipanaskan tanpa oksigen pada suhu tinggi hingga menghasilkan cairan hidrokarbon yang kemudian dimurnikan menjadi bioetanol.

Bahkan, limbah domestik dari asrama siswa pun diolah menjadi sumber energi. Madrasah membangun instalasi digester bawah tanah untuk menangkap gas metana dari limbah tinja ratusan siswa yang kemudian dimanfaatkan sebagai biogas untuk kebutuhan dapur asrama, sehingga membantu menekan biaya pembelian gas elpiji.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....