Mahasiswa ITPLN Kembangkan AI Prediksi Penyakit Hewan Nasional
- 29 Mar 2026 21:10 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Sukses memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memprediksi penyebaran penyakit hewan, mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN), Dionisius Aprisal Fenanlampir, meraih juara 3 kompetisi nasional BRIN. Kompetisi tersebut bertajuk “Sustainable Livestock Transformation Research and Innovation Competition for Young Scientists” bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).
Ia menghadirkan riset kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi penyebaran penyakit hewan lintas provinsi di Indonesia. Riset tersebut dipresentasikan dalam forum internasional transformasi industri peternakan berkelanjutan 2026.
Dionisius menjelaskan risetnya berangkat dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku 2022. Wabah itu menjadi krisis peternakan terbesar dalam 40 tahun terakhir di Indonesia.
Mahasiswa S1 Teknik Tenaga Listrik ini menyebut lebih dari 600.000 ternak terinfeksi di 19 provinsi tanpa sistem prediksi sebelumnya. “Dengan machine learning dan data publik, model saya memprediksi 100 persen provinsi terinfeksi,” ujarnya, Minggu, 29 Maret 2026.
Ia menambahkan model mampu memberi peringatan dua minggu sebelum kasus muncul.“Ini menunjukkan potensi besar AI dalam mitigasi wabah penyakit hewan,” katanya.
Menurutnya, riset ini tidak hanya berlaku untuk PMK, tetapi juga penyakit lain. Ia menyebut flu burung H5N1, Lumpy Skin Disease, hingga African Swine Fever.
“PMK hanya pembuktian konsep, visi besarnya membangun surveilans kesehatan hewan berbasis AI,” katanya. Ia menegaskan sistem ini penting untuk masa depan peternakan Indonesia.
Ia menyoroti belum adanya sistem peringatan dini berbasis AI di Indonesia. Selain itu, akses data surveilans masih terbatas dalam sistem pemerintah.
“Respons kita selama ini reaktif dan peternak kecil sering kehilangan ternak tanpa persiapan,” katanya. “Padahal data tersedia, tetapi belum terbuka bagi peneliti."
Dionisius mengaku ketertarikannya berangkat dari pengalaman pribadi kehilangan ternak babi pada 2025. “Dari situ saya berpikir, peternak perlu alat peringatan sebelum virus datang,” ujarnya.
Ia menilai keunikan riset terletak pada skalabilitas dan penggunaan data publik. “Framework ini bisa direplikasi untuk berbagai penyakit dengan penyesuaian fitur data,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan data bukan alasan untuk tidak membangun sistem prediksi. “Ini bukti inovasi tetap bisa lahir dari sumber data terbuka,” ujarnya.
Dalam kompetisi, ia mendapat pengalaman berharga berdiskusi dengan juri internasional FAO dan BRIN. “Mereka memberi perspektif masa depan peternakan berkelanjutan,” ucapnya
Ia mengaku tidak menyangka meraih juara 3 karena bukan dari bidang peternakan. “Ini bukti pendekatan lintas disiplin punya tempat dalam riset,” katanya.
Ke depan, ia akan mengembangkan riset dalam tiga tahap hingga platform data terbuka. Platform tersebut akan dinamai Livestock Disease Data Commons.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....