Pulasan, Buah Manis yang Kian Langka

  • 07 Mar 2026 17:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah beragam buah tropis yang melimpah di Asia Tenggara, ada satu buah yang kini mulai jarang terlihat di pasar tradisional maupun kebun masyarakat, yaitu buah pulasan. Dahulu, buah ini cukup dikenal di beberapa daerah Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Namun seiring waktu, popularitasnya kalah oleh buah yang lebih mudah ditemukan seperti rambutan dan lengkeng. Padahal, pulasan memiliki rasa yang sangat manis dan khas sehingga banyak orang yang pernah mencicipinya sulit melupakan kelezatannya.

Disadur dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian – Kementerian Pertanian RI tentang penelitian rambutan dan kapulasan (Nephelium mutabile), buah pulasan memiliki nama ilmiah Nephelium mutabile dan masih satu keluarga dengan rambutan serta leci. Bentuknya hampir mirip rambutan, tetapi kulitnya memiliki tonjolan pendek yang tebal dan tidak berbulu.

Warna kulitnya biasanya merah tua hingga keunguan ketika matang. Di dalamnya terdapat daging buah berwarna putih bening yang rasanya manis, berair, dan menyegarkan. Bahkan beberapa ahli menyebut rasa pulasan lebih manis dibandingkan rambutan.

Salah satu keunikan buah ini adalah cara membukanya. Jika rambutan mudah dibelah dengan tangan, pulasan biasanya dibuka dengan cara diputar atau dipelintir menggunakan kedua tangan.

Dari cara membuka inilah nama “pulasan” berasal, yaitu dari kata Melayu pulas yang berarti memutar atau memelintir. Pohonnya sendiri dapat tumbuh hingga sekitar 10–15 meter dan berkembang baik di daerah tropis yang lembap seperti Indonesia dan Malaysia.

Meskipun rasanya enak, pulasan kini semakin sulit ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah jumlah pohonnya yang tidak sebanyak tanaman buah lain.

Banyak petani lebih memilih menanam rambutan atau buah komersial lainnya yang lebih mudah dipasarkan. Selain itu, pulasan juga jarang dibudidayakan secara luas sehingga keberadaannya lebih sering ditemukan di kebun lama atau pekarangan rumah masyarakat pedesaan.

Selain lezat, pulasan juga memiliki potensi manfaat bagi kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa buah ini mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa tersebut berperan dalam membantu melawan radikal bebas di dalam tubuh serta berpotensi mendukung kesehatan secara umum.

Melihat keunikan rasa dan manfaatnya, pulasan sebenarnya layak untuk kembali dikenal oleh masyarakat. Upaya pelestarian melalui penanaman di pekarangan atau kebun buah lokal dapat menjadi langkah sederhana agar buah tradisional ini tidak semakin terlupakan. Dengan mengenalkan kembali pulasan kepada generasi muda, kita juga turut menjaga kekayaan buah tropis nusantara yang sangat beragam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....