Ledakan 40 Juta Tahun Lalu Terungkap, Webb Tangkap Wajah Bintang sebelum Meledak

  • 24 Feb 2026 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Washington - Sebuah bintang di galaksi tetangga meledak dalam kehancuran kosmik empat puluh juta tahun yang lalu. Cahaya dari ledakan ini melintasi ruang hampa hingga akhirnya mencapai Bumi pada 29 Juni 2025 lalu.

Peristiwa ini ditangkap oleh All-Sky Automated Survey for Supernovae dan diberi kode SN 2025pht. Namun, mengutip laman resmi NASA, Selasa, 24 Februari 2026, penemuan kali ini dinilai berbeda.

Biasanya, para astronom akan fokus pada sisa-sisa ledakan. Kali ini, tim ilmuwan dari Northwestern University mencari ‘foto lama’ sang bintang sebelum ia hancur.

Menggunakan data dari Galaksi NGC 1637, tim berhasil mengidentifikasi bintang induk (progenitor). Mereka menggunakan pengamatan inframerah dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST).

Ini menandai pertama kalinya Webb berhasil mendeteksi bintang sebelum meledak menjadi supernova. "Kami telah menantikan momen ini, sebuah supernova meledak di galaksi yang sudah pernah diobservasi oleh Webb," ujar Charlie Kilpatrick, penulis utama studi yang diterbitkan dalam Astrophysical Journal Letters.

Charlie mengatakan, timnya menggabungkan data Hubble dan Webb untuk mencirikan bintang ini secara utuh untuk pertama kalinya. Pada akhirnya, penemuan ini memberikan jawaban atas teka-teki lama di dunia astronomi.

Secara teori, bintang paling masif seharusnya menjadi yang paling terang dan mudah ditemukan sebelum meledak. Kenyataannya, banyak dari mereka yang seolah ‘hilang’ dari pantauan teleskop cahaya tampak seperti Hubble.

Data Webb mengungkap alasannya, yakni debu. Bintang induk SN 2025pht ditemukan sebagai bintang raksasa merah yang sangat redup akibat diselimuti awan debu tebal.

"Ini adalah raksasa merah paling merah dan paling berdebu yang pernah kami lihat meledak," kata salah satu mahasiswa pascasarjana di Northwestern, Aswin Suresh. Debu tersebut menghalangi panjang gelombang cahaya yang lebih pendek (biru).

Sehingga, bintang tersebut tidak terlihat oleh Hubble dan hanya bisa ditembus oleh sensor inframerah Webb (MIRI dan NIRCam). Selain jumlah debu, model komputer menunjukkan bahwa debu tersebut kaya akan karbon, bukan silikat seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Ilmuwan menduga karbon ini terangkat dari inti bintang ke permukaan dalam semacam ‘sendawa’ kosmik sesaat sebelum ledakan terjadi. Para astronom berharap dapat memantau bintang-bintang serupa dan menyaksikan mereka ‘bersendawa’ mengeluarkan debu sebelum menemui ajalnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....