Tantangan AI di Era Perkembangan Media
- 05 Feb 2026 16:04 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur : Praktisi Artificial Intelegence, juga Staf khusus Kementerian Pariwisata Bidang Komunikasi dan Media, Apni Jaya Putra menegaskan, penggunaan artifisial intelegence AI, telah menjadi konsumsi publik terutama Generasi muda, yang mencapai 65 persen pengguna di Indonesia, serta tak terbendung, Selasa (3/1/2026).
“Itu problem terbesar kita hari ini. Jadi siapa yang menentukan kebenaran? Bukan lagi data. Tapi adalah algoritma dan emosi kolektif kita”, ucap Apni.
Pernyataan ini disampaikan Apni, dalam kegiatan webiner yang digalakan LPDS dan Universitas Serang Raya jelang Hari Pers Nasional 9 februari 2026 dengan topik, Masyarakat kampus dan jurnalis dalam era Artificial Intelegence.
Menurutnya, terhadap produksi sebuah berita, dan siapa yang menentukan kebenaran dan bukan lagi data, namun algoritma dan emosi kolektif, sebab pada era yang dihadapi saat ini semua orang dapat memproduksi sebuah berita bukan hanya informasi yang dihasilkan sebuah perusahaan media namun melalui Media Sosial.
“Jadi Anda punya followers, kalau sudah di atas 1 juta, anda adalah media. Pahitnya di industri digital hari ini, masyarakat pembaca hanya percaya pada angka”, ujarnya.
Dia mencontohkan, misalkan tik tok dan lainnya hanya membutuhkan kecepatan, yang lebih penting dari akurasi memperhitungkan hal yang diminati saat ini atau trending yang lebih berharga dari kebenaran sebuah subjek yang dipublikasi.
Apni juga menegaskan, perubahan besar arus informasi yang dihadapi dunia hari ini secara global dengan menghadapi disrupsi oleh sosial media yang luar biasa, termasuk AI melalui revolusinya yang lebih dominan digunakan Generasi Zet.
“Hari ini kita menghadapi disrupsi oleh sosial media yang luar biasa, termasuk AI. Jadi kalau kita lihat revolusinya, dimulai dari sosial media. Gen Z hari ini menjadikan TikTok, sebagai TV dengan jumlah rata-rata 2 juta. 65 persen Gen Z itu menggunakan TikTok sebagai mesin pencari”, tuturnya.
PWI dan organisasi yang melakukan pengawasan tak memiliki tugas maksimal membatasinya termasuk menjadi tantangan bagi KPI menerapkan undang - undang penyiaran terhadap penggunaan A, hanya sebatas himbauan.
Apni juga menggambarkan, menguasai perusahaan media sosial yakni penguasa yang memiliki platform, dan memilik Perusahaan teknologi, diantaranya Meta, Google, Bytedance dan Amazon yang menguasai 80 persen belanja dan platform Media di dunia dan sangat berbahaya kepada demokrasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....