AS-IOM Kembangkan Uji Coba Aplikasi Pemantauan TPPO di Indonesia

  • 09 Jun 2026 21:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Urusan Narkotik dan Penegakan Hukum (INL) Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melakukan uji coba aplikasi seluler PESISIR (Pemantauan dan Skrining Indikasi Risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang).
  • Aplikasi yang dikembangkan ini juga termasuk mendeteksi kerja paksa, di kapal perikanan komersial.
  • Aplikasi berbasis web tersebut dikembangkan melalui kolaborasi selama 33 bulan antara INL dan IOM.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Urusan Narkotik dan Penegakan Hukum (INL) Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melakukan uji coba aplikasi seluler PESISIR (Pemantauan dan Skrining Indikasi Risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang). Kegiatan ini dilakukan bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu, 6 Juni 2026.

Aplikasi yang dikembangkan ini juga termasuk mendeteksi kerja paksa, di kapal perikanan komersial. Sementara, uji coba tersebut dilaksanakan di atas kapal Polri.

Aplikasi PESISIR dirancang untuk membekali personel Polisi Perairan dan Udara (Polairud). Dalam hal ini yakni terkait kemampuan melakukan identifikasi awal terhadap awak kapal yang berpotensi menjadi korban perdagangan orang.

Kehadiran aplikasi ini diharapkan dapat memperkuat proses penanganan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di sektor maritim. Di mana selama ini menjadi salah satu tantangan dalam penegakan hukum.

Direktur INL di Kedutaan Besar AS, Aqueelah Johnson mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen kedua negara dalam memperkuat keamanan maritim dan memerangi perdagangan orang. Menurutnya, penguatan kapasitas aparat Indonesia juga memiliki dampak terhadap stabilitas kawasan.

“AS bangga bermitra dengan Indonesia. Khususnya dalam upaya memperkuat keamanan maritim dan memerangi perdagangan orang dengan memperkuat kapasitas Indonesia,” kata Johnson dalam keterangan tertulis dikutip Selasa, 9 Juni 2026.

“Dalam menghadapi ancaman maritim, kami melindungi jalur perdagangan maritim penting bagi Amerika Serikat. Sekaligus berkontribusi terhadap kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” ujarnya.

Aplikasi berbasis web tersebut dikembangkan melalui kolaborasi selama 33 bulan antara INL dan IOM. Fitur utamanya adalah dukungan audio delapan bahasa yakni Bahasa Indonesia, Inggris, Vietnam, Thailand, Khmer, Burma, Tagalog, dan Mandarin Sederhana.

Menurut pengembangnya, keberagaman pilihan bahasa itu mencerminkan karakter perdagangan orang yang bersifat lintas negara. Kejahatan tersebut tidak hanya berdampak pada korban dari berbagai kewarganegaraan, tetapi juga berpotensi mengganggu keamanan dan stabilitas kawasan maritim.

Setelah melalui serangkaian konsultasi dan latihan simulasi bersama lembaga penegak hukum Indonesia, aplikasi PESISIR dijadwalkan tersedia bagi sejumlah instansi. Termasuk, Polri, Badan Keamanan Laut (Bakamla), dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....