Menhaj Dorong Komoditas Pangan Indonesia Masuk Katering Haji Saudi

  • 05 Jun 2026 08:24 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Madinah – Pemerintah Indonesia mendorong perluasan ekspor komoditas pangan nasional ke Arab Saudi untuk mendukung kebutuhan katering jemaah haji dan umrah. Upaya tersebut disampaikan Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf saat meninjau dua penyedia layanan konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah, yakni Meez Mary Catering dan Uhud Taiba for Catering, Rabu, 3 Juni 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Tim Amirul Hajj tidak hanya memastikan kualitas layanan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia, tetapi juga melihat peluang pemanfaatan komoditas pangan asal Indonesia dalam rantai pasok katering di Arab Saudi. Sejumlah bahan pangan seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, hingga berbagai bumbu masakan dinilai memiliki potensi besar untuk memasuki pasar tersebut.

"Kita melihat ada banyak komoditas yang sebenarnya kita miliki. Seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, dan bumbu masakan yang selama ini menjadi bagian dari konsumsi jemaah," ujarnya saat berada di Uhud Taiba for Catering.

Menurut Irfan, sebagian produk yang digunakan di dapur katering haji sebenarnya berasal dari Indonesia. Namun, produk tersebut belum sepenuhnya tercatat sebagai komoditas nasional karena masuk melalui negara lain atau dipasarkan dengan merek negara berbeda.

Irfan mencontohkan santan dan ikan patin yang digunakan dalam penyediaan makanan jemaah haji. Komoditas tersebut diduga berasal dari Indonesia, tetapi dipasok melalui jalur distribusi lain, sehingga tidak tercatat sebagai produk ekspor langsung dari Indonesia.

Meski peluang pasar cukup besar, Irfan mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan ekspor pangan ke Arab Saudi. Salah satunya adalah tingginya biaya logistik akibat kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi distribusi barang.

Pemerintah sebelumnya telah mencoba mengirim beberapa komoditas, seperti beras dan bumbu masakan untuk memenuhi kebutuhan katering haji. Namun, upaya tersebut belum berjalan optimal karena biaya transportasi yang tinggi dan situasi kawasan yang belum sepenuhnya stabil.

"Peluangnya sangat bagus. Kita punya semua komoditas itu. Tinggal bagaimana menyesuaikan standar dan aturan agar bisa masuk ke pasar Arab Saudi," katanya.

Selanjutnya, pemerintah membuka kemungkinan memasukkan ketentuan penggunaan komoditas pangan Indonesia dalam kontrak penyediaan katering haji. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian pasar bagi produk nasional, sekaligus memperkuat keterlibatan pelaku usaha Indonesia dalam penyelenggaraan haji dan umrah.

"Dalam kontrak bisa saja diatur penggunaan beras atau bahan pangan dari Indonesia. Ini akan memperkuat posisi produk kita, meski saat ini belum bisa diterapkan sepenuhnya," ujarnya.

Irfan berharap perbaikan kondisi logistik global dan stabilitas kawasan Timur Tengah dapat membuka peluang lebih besar bagi komoditas pangan Indonesia untuk memasuki pasar Arab Saudi. Selain mendukung kebutuhan konsumsi jemaah haji, langkah tersebut juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi petani, nelayan, UMKM, dan pelaku usaha nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....