Anak Dilarang, Orang Tua Bebas Main HP? Mengurai Dilema 'Screen Time' di Rumah
- 27 Jun 2026 20:31 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar lampung : Membatasi waktu menatap layar (screen time) pada anak kini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pola pengasuhan modern. Banyak orang tua yang mengeluhkan anak-anak mereka sulit lepas dari gawai atau gadget. Namun di sisi lain, sebuah dilema muncul ketika orang tua sendiri kerap menggunakan gawai di depan anak sebagai sarana hiburan atau melepas penat setelah seharian bekerja.
Situasi ini sering kali menciptakan standar ganda di dalam rumah, di mana anak dilarang bermain gawai, sementara orang tua bebas berselancar di media sosial atau menonton tayangan digital di lingkungan yang sama.
Seorang ibu rumah tangga di Bandar Lampung, CRanu (34), mengakui sulitnya menerapkan aturan pembatasan gawai pada anak secara konsisten.
"Kadang kita tegas melarang anak main game atau nonton video di HP, tapi di saat yang sama, kita sendiri megang HP buat refreshing atau balas pesan. Apa lagi musim liburan seperti ini, anak anak sering main HP, Anak sekarang kritis banget, mereka langsung protes dan bilang 'Kok Ibu boleh main HP, aku enggak?'. Itu yang bikin dilema," ungkap Rani kepada RRI, Sabtu (27/6/2026).
Para pakar psikologi anak dan keluarga menyebutkan bahwa anak adalah peniru yang ulung. Aturan sekeras apa pun mengenai pembatasan screen time tidak akan berjalan efektif jika orang tua tidak memberikan contoh atau teladan yang nyata. Ketika orang tua sibuk dengan gawainya sendiri, anak tidak hanya merasa diabaikan, tetapi juga memvalidasi bahwa berada di depan layar adalah aktivitas utama yang normal dilakukan saat santai.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri merekomendasikan batas screen time untuk anak usia 2 hingga 5 tahun adalah maksimal 1 jam per hari, itu pun dengan tayangan yang berkualitas dan didampingi orang tua. Sedangkan untuk anak di bawah usia 2 tahun, sangat disarankan untuk sama sekali tidak diberi akses layar gawai, kecuali untuk panggilan video bersama keluarga.
Untuk mengatasi dilema ini, para ahli menyarankan beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh keluarga:
- Membuat Kesepakatan Zona Bebas Gawai: Tetapkan area atau waktu tertentu di mana seluruh anggota keluarga—termasuk orang tua—tidak boleh memegang gawai, misalnya di meja makan atau satu jam sebelum waktu tidur.
- Melakukan Digital Detox Bersama: Alihkan hiburan akhir pekan dari layar gawai ke aktivitas fisik atau luar ruangan, seperti berkebun, membaca buku fisik, atau bermain board game bersama anak.
- Bijak Memilih Waktu Hiburan Mandiri: Jika orang tua membutuhkan waktu untuk hiburan digital (me-time), sebaiknya lakukan saat anak sudah tidur atau saat anak sedang tidak berada di ruang umum yang sama.
Menghadapi era digital bukan berarti menjauhkan teknologi sepenuhnya dari rumah, melainkan bagaimana orang tua dan anak bersama-sama belajar disiplin. Menjadi teladan yang bijak dalam menggunakan teknologi adalah investasi terbaik bagi tumbuh kembang emosional dan kedekatan anak dengan orang tua.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....