Mikroplastik Ancam Pantai Barat, Yamantab Ajak Anak Muda Jaga Laut

  • 19 Jun 2026 15:28 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Penumpukan sampah plastik di kawasan Pantai Barat, khususnya di wilayah hulu hingga pesisir Sibolga dan Tapanuli Tengah, kian mengkhawatirkan. Jika terus dibiarkan tanpa ada aksi nyata, sampah-sampah tersebut berisiko besar terdegradasi menjadi partikel beracun tak kasat mata, yaitu mikroplastik.

Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Bank Sampah Yamantab (Yayasan Menjaga Pantai Barat), Damai Mendrofa, saat menjadi narasumber dalam program siaran berjaringan Sore Bercerita Koordinator Wilayah (Korwil) XVI yang meliputi RRI Medan, RRI Sibolga, dan RRI Gunungsitoli, pada Rabu (17/6/2026) sore. Pada edisi kali ini, RRI Pro 2 Sibolga bertindak sebagai tuan rumah siaran.

Dalam dialog interaktif yang dipancarkan secara luas ke pendengar muda di Sumatera Utara ini, Damai menjelaskan bahwa banyak masyarakat urban maupun pesisir yang belum sadar bahwa sampah plastik harian yang dibuang sembarangan di daratan akan bermuara dan membanjiri lautan. Padahal, material plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk bisa terurai oleh alam.

"Plastik yang terbawa ke laut lama-kelamaan pecah menjadi partikel yang sangat kecil atau mikroplastik. Ini yang kami sebut sebagai the silent killer," ujar Damai melalui frekuensi udara Pro 2 Korwil XVI.

Ancaman mikroplastik ini, lanjut Damai, sudah masuk ke dalam rantai makanan dan mengancam potensi kelautan serta kuliner laut andalan di wilayah Pantai Barat dan sekitarnya. Partikel mikroplastik berisiko tinggi tertelan oleh biota laut, termasuk ikan-ikan segar yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. Dampak jangka panjangnya pun sangat fatal bagi kesehatan manusia karena racun kimia plastik dapat mengendap di dalam tubuh.

Sebagai lembaga yang konsisten bergerak di hulu, Bank Sampah Yamantab terus berupaya mengedukasi warga untuk memilah sampah agar memiliki nilai ekonomi ketimbang berakhir menjadi racun di lautan. Meski begitu, Damai mengakui tantangan terbesar yang dihadapi timnya di lapangan adalah skeptisisme dan sulitnya mengubah pola pikir masyarakat yang masih sangat bergantung pada plastik sekali pakai.

Di akhir sesi dialog, Damai menaruh harapan besar kepada generasi muda atau Teman Terbaik Pro 2 di Medan, Sibolga, hingga Gunungsitoli untuk mulai mengadopsi green lifestyle. Salah satu langkah taktisnya adalah dengan mengurangi penggunaan wadah plastik sekali pakai dan mulai membawa tumbler sendiri saat nongkrong di kafe.

"Jaga bumi kita, jaga pantai kita. Karena apa yang kita buang ke alam, suatu saat akan kembali ke tubuh kita sendiri melalui makanan yang kita konsumsi," pungkas Damai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....