Enam Bulan di Bangunan Pink Biru

  • 26 Mei 2026 20:05 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Sutradara asal Meksiko, Bruno Santamaría Razo, yang sebelumnya dikenal lewat karya dokumenter, kini merilis film naratif pertamanya yang berjudul Six Months in a Pink and Blue Building. Film ini terinspirasi langsung dari pengalaman pribadinya saat berusia 11 tahun, ketika ayahnya didiagnosis mengidap HIV.

Bercerita tentang keluarga, identitas queer yang mulai tumbuh, serta suasana Meksiko era 1990-an, film ini menjadi penghormatan indah bagi orang tua Razo sekaligus gambaran fiksi yang emosional tentang titik balik dalam hidupnya.

Dalam film tersebut, kisah sang anak—yang diperankan oleh Jade Reyes—berjalan sejajar dengan kisah ayahnya (Lázaro G. Rodríguez). Di pesta ulang tahun Bruno yang ke-11, para tamu diminta berdandan layaknya lawan jenis. Di sinilah Bruno merasakan perasaan lembut dan asing terhadap sahabatnya, Vladimir (Eduardo Gómez). Di pesta yang sama, sang ayah menerima kabar bahwa hasil tes darahnya menunjukkan kejanggalan.

Sepanjang film, penonton menyaksikan ayah dan anak berusaha menghadapi kenyataan baru dalam hidup mereka. Sosok ibu, Diana (Sofía Espinosa), menjadi penyeimbang keluarga serta jembatan antara suami dan anaknya. Sementara ayah tenggelam dalam karya ilustrasinya dan Bruno jatuh cinta untuk pertama kalinya, Diana dengan pragmatis berusaha mempersiapkan masa depan yang mungkin tanpa sang suami.

Razo menghadirkan dunia Bruno dengan nuansa fantasi yang kaya warna. Adegan-adegan seperti saat Bruno dan Vladimir masuk ke latihan paduan suara gereja, lalu seorang ratu drag berkilau menarik perhatiannya, digambarkan layaknya pengalaman religius yang membuka mata seorang anak. Sebaliknya, momen antara Bruno dan ayahnya terasa sendu. Permintaan Bruno untuk mewarisi cat air sang ayah menjadi simbol yang dalam, dan pergantian palet warna dari cerah ke suram menggambarkan kontras emosi antara penemuan jati diri dan kesadaran akan kerapuhan hidup.

Menariknya, Razo tidak sepenuhnya meninggalkan gaya sinema vérité-nya. Film ini dibuka dengan wawancara sang sutradara bersama ibunya, lalu Razo muncul di layar untuk bercerita langsung. Potongan film dokumenter pendidikan tentang AIDS dari masa itu juga diselipkan di sepanjang film. Hasilnya, Six Months in a Pink and Blue Building bergerak lincah antara ingatan, pengakuan, dan rekonstruasi—tanpa terasa seperti sekadar latihan gaya sinematik.

Dengan sinematografi Super 16mm oleh Fernando Hernández García, film ini terasa hangat seperti rekaman rumah lawas, namun juga megah seperti melodrama era keemasan. Razo berhasil menangkap masa-masa aneh ketika fantasi kanak-kanak mulai bertemu realita orang dewasa, dan ketika suka serta duka bisa hadir dalam ruang yang sama.

Bagi penonton yang pernah merasakan kehilangan, kebingungan identitas, atau cinta pertama yang membingungkan, film ini bukan sekadar kisah dewasa. Ia adalah tindakan mengingat yang personal—dan terasa personal pula bagi siapa pun yang menontonnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....