‘La Perra’: Elegi Trauma dan Penyembuhan dari Dominga Sotomayor

  • 20 Mei 2026 14:55 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Sutradara asal Chili, Dominga Sotomayor, kembali memperkuat reputasinya melalui film ‘La Perra’ yang tayang perdana di Directors’ Fortnight, Festival Film Cannes. Berbeda dengan karyanya yang didukung Netflix, ‘Swim to Me’, film ini mengusung gaya intim dan personal yang dulu melekat pada film-film awalnya seperti ‘Thursday to Sunday’ dan ‘Too Late to Die Young’.

Diadaptasi dari novel terkenal karya Pilar Quintana, ‘La Perra’ berkisah tentang Silvia (diperankan dengan sangat memukau oleh Manuela Oyarzún), seorang perempuan paruh baya tangguh yang tinggal di Pulau Santa Maria, Chili. Kehidupannya yang sederhana sebagai pencari rumput laut berubah ketika ia mengadopsi seekor anjing bernama Yuri. Namun, ikatan mereka bukanlah kisah persahabatan mengharukan biasa. Ketika Yuri kabur karena ketakutan akan kembang api, Silvia justru dihantam gelombang kesedihan lama yang selama ini ia kubur.

Sotomayor tidak menggunakan kilas balik konvensional. Penonton diajak larut dalam ingatan Silvia—termasuk insiden traumatis masa kecilnya bersama keluarga Brasil yang dibintangi Selton Mello (‘I’m Still Here’). Peralihan masa lalu dan kini terasa seperti mimpi, diperkuat sinematografi luas dari Simone D'Arcangelo serta penyuntingan intuitif Federico Rotstein.

Hasilnya, ‘La Perra’ bukanlah film yang memberi jawaban mudah atau perubahan hati yang dramatis. Film ini adalah sajian tenang namun mengganggu tentang kesendirian perempuan, proses penyembuhan yang tak linear, serta hubungan yang tak terduga antara manusia, hewan, dan alam. Bagi penonton yang sabar, film ini akan terasa menghanyutkan—seperti ombak yang tak pernah berhenti menggores pantai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....