Tuantigabelas Rilis Berani Mati Takut Hidup, Jihad Batin & Spirit

  • 05 Mei 2026 21:10 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID,Medan - Rapper kenamaan Indonesia, Tuantigabelas, kembali menggebrak kancah musik hip-hop tanah air dengan merilis single terbaru berjudul “Berani Mati Takut Hidup” (BMTH). Berkolaborasi dengan Achy alias 4PRI Beat, lagu ini menjadi sebuah refleksi mendalam mengenai jihad batin serta pertarungan antara akal dan ego yang dituangkan melalui rima tajam di atas komposisi beat yang berkarakter.

Lagu ini berangkat dari perenungan ulang makna "berani mati" yang sering kali disalahartikan. Bagi Tuantigabelas, istilah tersebut bukanlah dorongan menuju akhir kehidupan atau keputusasaan, melainkan sebuah keberanian besar untuk menjalani hidup dengan lebih baik, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang tercinta yang ada di sekitar.

Dalam keterangannya, Tuantigabelas menjelaskan bahwa konsep "berani mati" adalah bentuk kesadaran untuk melepaskan kendali berlebih atas kehidupan tanpa harus kehilangan kendali atas diri sendiri. Menurutnya, manusia seharusnya berada pada titik di mana mereka tidak lagi menggenggam hidup secara obsesif, melainkan menemukan diri dalam keterhubungan dengan Sang Pencipta.

"Hidup itu bukan untuk mencari mati, namun juga tidak untuk menolaknya. Pada titik itu, kita tidak lagi sekadar menggenggam hidup, tetapi menemukan diri kita dalam napas yang memberi hidup, dalam keterhubungan dengan Yang Maha Hidup," ujar Tuantigabelas.

Single ini masih memiliki benang merah yang sama dengan karya sebelumnya, Samadhi dan Talari, yang menjadi bagian dari perjalanan menuju album kedua. BMTH merekam fase transisi dari "waras" menuju "sadar", sebuah tahap di mana akal, rasa, dan tindakan mulai bergerak dalam satu keselarasan yang utuh.

Melalui lagu ini, Tuantigabelas juga merumuskan apa yang ia sebut sebagai Rakat Mentality. Ini adalah sebuah sikap hidup "kepala batu" yang sadar arah, di mana seseorang terus mencoba tanpa henti hingga menyelesaikan permainan hidup. Ia menegaskan bahwa hidup adalah proses panjang untuk merawat kesadaran sebagai pengemudi utama.

"Kita harus ingat bahwa raga adalah kendaraan dan rasa adalah petanya, namun kesadaranlah yang menjadi pengemudi dari kehidupan yang dijalani," tambahnya. Karya ini sekaligus menjadi penegas bahwa hidup bukanlah ruang untuk ditinggalkan, melainkan proses untuk mencapai kesadaran utuh tentang diri dan Yang Menghidupkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....