Dari Rantau ke Nada: 'RAUN' dan Bahasa Cinta Seorang Ayah
- 17 Apr 2026 08:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Visual artist, desainer grafis, sekaligus musisi, Rully Irawan bersiap merilis karya musik terbarunya
- Visual artist, desainer grafis, sekaligus musisi, Rully Irawan
RRI.CO.ID, Copenhagen — Visual artist, desainer grafis, sekaligus musisi, Rully Irawan bersiap merilis karya musik terbarunya yang berangkat dari pengalaman personal sebagai seorang ayah dan perantau. Karya ini menjadi refleksi pencarian makna “rumah” di negeri orang, yang ia jalani selama beberapa tahun terakhir.
Perjalanan itu bermula ketika Rully tertahan di Belanda akibat pembatasan mobilitas saat pandemi COVID-19, sebelum akhirnya menetap di Copenhagen, Denmark. Di tengah fase penting sebagai suami dan ayah, ia menghadapi perubahan besar dalam hidup yang menggeser cara pandangnya terhadap diri sendiri dan kreativitas.
Transisi dari individu yang bebas berekspresi menjadi seorang ayah dengan tanggung jawab penuh menjadi titik balik yang tidak mudah. Tanpa kehadiran support system keluarga, Rully menjalani peran sebagai “stay-at-home dad” sambil mempelajari bahasa Denmark dan mencari arah baru dalam kariernya.
Rutinitas harian yang berfokus pada keluarga perlahan menjauhkannya dari musik, medium ekspresi yang sebelumnya begitu dekat. Hampir lima tahun ia tidak menyentuh alat musik, hingga akhirnya “suara-suara” dan melodi kembali muncul dalam benaknya, memanggil untuk diwujudkan.
Momen sederhana di rumah menjadi titik balik yang tak terduga ketika Rully kembali memetik gitar. Putrinya, Flora, sempat merasa terganggu, namun seiring waktu, bunyi gitar itu justru menjadi jembatan komunikasi baru di antara mereka.
Dari situ lahir dorongan untuk menciptakan karya yang dapat menjadi “bahasa” antara seorang ayah dan anaknya. Ia ingin menghadirkan medium untuk menyampaikan perasaan yang belum sepenuhnya bisa diungkapkan secara verbal, sebagaimana tergambar dalam lirik, “Saat nanti kau bisa berbahasa.”
Karya ini juga memperkenalkan konsep RAUN, sebuah istilah yang memiliki makna personal bagi Rully. Di Copenhagen, kata tersebut ia temukan sebagai nama seseorang, sementara di kampung halamannya di Riau, “raun” merupakan adaptasi dari “to go around,” yang berarti berjalan atau berkeliling.
Bagi Rully, RAUN menjelma menjadi simbol perjalanan, baik secara fisik maupun emosional, dalam mencari makna rumah, identitas, dan kedamaian. Filosofi ini tercermin dalam pendekatan bermusiknya yang sederhana, jujur, dan tanpa pretensi.
Ia memilih menggunakan instrumen yang tersedia, memainkan gitar atau bass sambil bernyanyi tanpa berusaha menyerupai siapa pun selain dirinya sendiri. “Inspirasi lain dalam karya ini datang dari hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti buah kesukaan anak saya, markisa,” ucap Rully.
Dalam salah satu bagian lagu, ia menuliskan, “Terkadang jangan lupa menepi, lihatlah itu rumahmu juga.” Lirik itu berlanjut, “Tempat berpuas makan markisa, tempat temukan bagian dari diri sendiri.”
“Lirik tersebut menjadi metafora tentang pentingnya berhenti sejenak, kembali ke dalam diri, dan menemukan rasa ‘pulang’ di tengah kehidupan yang terus bergerak,” lanjutnya. Nuansa reflektif ini menjadi benang merah dalam keseluruhan karya yang ia hadirkan.
Berbeda dengan karya sebelumnya yang lahir di tengah keterbatasan lockdown tahun 2020, rilisan terbaru ini hadir dari fase yang lebih tenang. Rully menulis bukan lagi dari rasa getir, melainkan dari penerimaan atas proses hidup yang telah ia jalani.
Karya ini sekaligus menandai fase baru dalam perjalanan kreatifnya yang lebih terbuka terhadap kolaborasi dan kemungkinan baru. Lagu tersebut akan menjadi rilisan terbaru Rully Irawan bersama RAUN, yang secara khusus ia dedikasikan untuk putrinya, Flora.
“Dipilihnya bahasa Indonesia dalam lirik menjadi upaya untuk menjaga koneksi budaya dan emosional, agar suatu hari nanti anak saya dapat memahami ‘bahasa bapaknya’ secara utuh,” ujarnya. Melalui karya ini, Rully mengajak pendengar untuk ikut “raun” menjelajahi makna rumah, keluarga, dan diri sendiri dalam perjalanan yang sederhana namun penuh makna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....