Tren Estetik di Media Sosial, Asli atau Ikut-Ikutan?

  • 08 Apr 2026 10:19 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Istilah seperti clean girl, soft girl, hingga berbagai label estetik lainnya semakin sering muncul di media sosial. Tren ini bukan hanya soal gaya berpakaian, tapi juga cara hidup mulai dari rutinitas pagi, tampilan meja kerja, hingga cara seseorang menampilkan dirinya secara online. Platform seperti TikTok dan Instagram menjadi ruang utama di mana tren-tren ini berkembang dan menyebar dengan cepat.

Fenomena ini muncul karena visual yang konsisten dan “rapi” lebih mudah menarik perhatian. Konten dengan tone warna tertentu, gaya minimalis, atau vibe tertentu seringkali lebih mudah viral dibanding konten yang terlihat acak. Menurut laporan tren dari Pinterest Predicts, gaya hidup berbasis estetika menjadi salah satu faktor utama dalam membentuk preferensi generasi muda di media sosial.

Namun, pertanyaannya: apakah tren ini benar-benar mencerminkan diri sendiri, atau hanya ikut-ikutan? Banyak pengguna yang tanpa sadar menyesuaikan gaya hidup mereka agar sesuai dengan tren yang sedang populer. Mulai dari cara berpakaian hingga kebiasaan sehari-hari, semuanya bisa berubah demi terlihat “masuk” dalam kategori estetik tertentu.

Di sisi lain, tren ini juga bisa dilihat sebagai bentuk personal branding. Dengan memilih satu gaya visual yang konsisten, seseorang sebenarnya sedang membangun identitas digitalnya. Media seperti Forbes menyebut bahwa konsistensi visual di media sosial dapat membantu seseorang lebih mudah dikenali, baik sebagai individu maupun sebagai profesional.

Masalahnya, batas antara autentik dan ikut tren sering kali jadi tipis. Ketika terlalu fokus mengikuti estetika tertentu, ada risiko kehilangan keaslian diri. Apa yang awalnya menyenangkan bisa berubah menjadi tekanan untuk terus terlihat “sesuai standar” tren tersebut.

Pada akhirnya, tren estetik di media sosial tidak sepenuhnya salah atau benar. Semuanya kembali pada bagaimana seseorang menggunakannya—apakah sebagai ekspresi diri atau sekadar mengikuti arus. Yang terpenting, tetap ada ruang untuk menjadi diri sendiri di tengah derasnya tren yang terus berubah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....