30 Maret sebagai Hari Fillm Nasional
- 27 Mar 2026 17:41 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID,Kendari - Hari Film Nasional dirayakan di Indonesia setiap tahun pada tanggal 30 Maret. Hari ini memperingati hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa, yang secara luas dianggap sebagai film Indonesia pertama.
Sejarah perfilman Indonesia berawal dari era kolonial Belanda. Bioskop pertama di Hindia Belanda muncul pada tahun 1900-an. Bioskop-bioskop tersebut dibuka oleh studio asing yang mengimpor film bisu dan dokumenter dari Amerika Serikat dan Eropa. Film-film produksi dalam negeri pertama di Hindia Belanda adalah film dokumenter tentang kehidupan dan alam Indonesia, tetapi film-film tersebut kurang mendapat perhatian dibandingkan film-film impor.
Film produksi dalam negeri pertama di Hindia Belanda adalah Loetoeng Kasaroeng, sebuah adaptasi bisu dari cerita rakyat Sunda tentang seorang putri yang jatuh cinta dengan lutung ajaib (sejenis monyet). Film ini pertama kali diputar pada tanggal 31 Desember 1926, menandai awal dari apa yang sekarang dikenal sebagai era perfilman klasik Indonesia.
Selama Perang Dunia II, penjajah Jepang di Indonesia memanfaatkan industri film lokal sebagai alat propaganda, dan satu-satunya film yang dibuat di Indonesia selama pendudukan adalah film pendidikan dan film berita propaganda tentang anak-anak lokal yang belajar bahasa Jepang dan pendaftaran sukarela di tentara Jepang.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan kemenangan Revolusi Nasional Indonesia, Sukarno melarang impor film asing karena ia bermaksud menggunakan industri film Indonesia untuk tujuan ideologis. Namun, meskipun keputusan ini kontroversial, hal itu memberikan dorongan bagi perkembangan produksi film di negara yang baru merdeka.
Di antara film-film pertama yang dirilis di Indonesia yang merdeka adalah Gadis Desa yang disutradarai oleh Andjar Asmara dan Tirja yang disutradarai oleh Usmari Ismail. Namun, film-film tersebut tidak dianggap sebagai film Indonesia yang "sesungguhnya" karena diproduksi oleh studio milik Belanda. Segera setelah perilisan Tirja, Ismail mendirikan studio film Indonesia pertama dan menyutradarai Darah dan Doa, yang secara luas dianggap sebagai film Indonesia "nasional" pertama.
Darah dan Doa (“Darah dan Doa”, dirilis dengan judul The Long March di luar Indonesia) adalah film perang yang menceritakan kisah Divisi Siliwangi dan perjalanannya dari Jawa Tengah ke Jawa Barat selama revolusi. Produksi film ini penuh masalah: pertama, sutradara harus mengamankan pendanaan tambahan, dan kemudian mengalami sensor karena materi pokoknya dianggap kontroversial.
Pada akhirnya, film ini mendapat sambutan negatif dari kritikus domestik dan gagal di box office. Namun, analisis retrospektif Darah dan Doa lebih positif karena kontribusi Ismail terhadap perkembangan industri film Indonesia. Ismail bahkan kadang-kadang disebut sebagai bapak perfilman Indonesia.
Anggota komunitas film Indonesia mulai merayakan hari pertama syuting film, 30 Maret, sebagai Hari Film Nasional pada tahun 1950. Pada tahun 1962, tanggal tersebut secara resmi diakui oleh Badan Film Nasional Indonesia. Akhirnya, Hari Film Nasional secara resmi ditetapkan pada tahun 1999 oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Perayaan tahunan industri film Indonesia meliputi pemutaran film, festival film, pameran, acara industri, dan lain-lain. Acara Hari Film Indonesia juga diselenggarakan oleh perkumpulan budaya Indonesia di luar negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....