Pencak Silat Palembang Warisan Kesultanan dan Rakyat Jelata
- 27 Jan 2026 20:52 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Pencak silat Palembang merupakan warisan seni bela diri Melayu sejak masa Kerajaan Sriwijaya. Tradisi ini berkembang pesat pada era Kesultanan Palembang Darussalam dan masih bertahan kuat.
Peneliti sejarah Palembang, Hidayatul Fikri menyebut karakter berani masyarakat tak lepas dari warisan para pendekar. Menurutnya, keberanian itu terbentuk dari penguasaan bela diri yang diwariskan turun-temurun.
“Wong Palembang itu punyo simpenan, artinya punya ilmu bela diri,” katanya, Selasa 27 Januari 2026.. Ia menegaskan Palembang tak akan mengganggu jika tidak diganggu.
Pencak silat Palembang terbagi dua aliran besar yaitu pencak keraton dan Kuntau yang berkembang bersamaan. Keduanya memiliki akar sejarah kuat dan dipengaruhi budaya lintas bangsa dari masa ke masa.
Sejarawan dan ulama Palembang, Kemas Andi Syarifuddin menyebut pencak silat diwariskan turun-temurun antar generasi. Jurus-jurusnya menggunakan bahasa Palembang dan dilakukan tanpa atau dengan senjata.
“Pendekar Palembang mampu bertarung dengan atau tanpa senjata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tiap jurus punya filosofi luhur yang dijunjung tinggi.
Pencak silat keraton hanya diajarkan kepada kalangan berdarah bangsawan bergelar Raden, Mas Agus, Kemas, atau Kiagus. Ajaran ini bersifat eksklusif dan dijaga dengan nilai kehormatan keluarga.
| Baca juga: Lin dan Callysta Tebar Inspirasi Anak Muda |
“Sejak 1950-an, pencak priyayi ini dikenal sebagai pencak keraton,” tuturnya. Ia menilai silat ini melambangkan martabat dan identitas keraton.
Berbeda dengan keraton, silat Kuntau terbuka untuk seluruh masyarakat dan berkembang bersama sejak era Sultan Muhammad Mansyur. Jurus-jurus Kuntau lebih dinamis serta mudah diakses masyarakat umum.
Andi menjelaskan bahwa Kuntau mengandung pengaruh budaya Tionghoa termasuk istilah dan tekniknya. Ia menyebut pengaruh itu datang dari pelaut seperti Laksamana Cheng Ho pada masa lampau.
“Istilah Kuntau berasal dari bahasa China yang berarti ilmu pukulan,” katanya. Ia menilai asimilasi tersebut memperkaya tradisi silat Palembang secara teknik dan makna.
Palembang juga memiliki pendekar legendaris seperti Pangeran Ratu Purbaya, putra Sultan Muhammad Mansyur. Ia dikenal sebagai simbol kekuatan pendekar pria yang disegani di zamannya.
Sosok pendekar perempuan juga lahir di Palembang yakni Ratu Bagus Kuning, adik Sultan Abdul Rahman. Ia dipercaya memimpin pasukan wanita melawan VOC dalam perjuangan bersenjata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....