Joget Palembang Cindo Hadirkan Gerak Sederhana Sarat Filosofi Budaya Palembang

  • 04 Jun 2026 06:53 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Komunitas Sanggar Tari Palembang (SATAPA) menghadirkan kreasi baru berupa Joget Palembang Cindo, sebuah tarian yang mengangkat kekayaan budaya lokal dengan konsep gerakan sederhana sehingga dapat diikuti oleh semua kalangan masyarakat.

Koreografer Joget Palembang Cindo, Heriyandi sebagai ketua SATAPA, mengatakan gerakan tarian tersebut dirancang dengan mengambil inspirasi dari berbagai warisan seni budaya Palembang. Sejumlah simbol khas Kota Pempek turut dimasukkan ke dalam koreografi sebagai bentuk pengenalan identitas daerah kepada masyarakat luas.

"Gerakannya kami ambil dari seni-seni tari yang ada di Palembang. Ada unsur gerakan bedana, kemudian simbol Jembatan Ampera, rumah limas, dan tanjak yang kami representasikan dalam tarian ini," ujar Heri disela shoting video klip lagu dan joget Palembang Cindo, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurutnya, kehadiran ikon-ikon budaya tersebut bertujuan agar Ampera, rumah limas, dan tanjak tetap dikenal sebagai identitas Palembang, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga hingga mancanegara.

Heri menjelaskan, konsep yang diusung bukanlah tarian tradisional yang rumit, melainkan sebuah joget dengan gerakan sederhana atau simple move yang mudah dipelajari oleh berbagai kelompok usia.

"Konsepnya memang dibuat sesederhana mungkin agar semua kalangan bisa mengikuti, mulai dari anak TK, SD, SMP, SMA, masyarakat umum hingga para lansia," katanya.

Proses penciptaan gerakan Joget Palembang Cindo dimulai di bulan Mei 2026 atas permintaan Andie Pedoo (penyanyi dan pencipta lagu “Palembang Cindo”) serta Kiki Kirana untuk menghadirkan koreografi yang memiliki nilai filosofi budaya. Heri mengaku hanya membutuhkan sekitar dua hari untuk merancang konsep hingga mengeksekusinya.

Setelah itu, proses penyempurnaan dilakukan bersama anggota Satapa melalui sejumlah latihan dan uji coba. Salah satunya dilaksanakan di Guns Cafe untuk melihat sejauh mana gerakan tersebut dapat diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat.

Hasilnya, respons yang diberikan peserta maupun masyarakat sangat positif. Banyak yang menilai gerakan Joget Palembang Cindo mudah diikuti dan menyenangkan untuk ditarikan bersama.

"Mereka senang karena gerakannya mudah. Bapak-bapak, ibu-ibu bahkan yang sudah lanjut usia merasa bisa ikut menari. Antusiasmenya luar biasa," ungkapnya.

Joget Palembang Cindo dijadwalkan tampil secara resmi pada acara pelantikan Paguyuban Car free Night (CFN) Atmo yang akan digelar pada Sabtu malam, 6 Juni 2026. Dalam penampilan tersebut, SATAPA bersama para penari muda akan mengajak seluruh peserta yang hadir untuk ikut berjoget bersama.

Saat ini SATAPA sendiri menjadi wadah bagi sekitar 70 sanggar tari yang ada di Kota Palembang. Meski koreografi Joget Palembang Cindo sebagian besar dirancang oleh Heriyandi, proses pengembangannya tetap melibatkan para anggota SATAPA.

Ke depan, Heri berharap Joget Palembang Cindo dapat menjadi bagian dari berbagai kegiatan masyarakat, termasuk acara pernikahan dan perayaan lainnya, sehingga masyarakat semakin bangga menggunakan karya seni daerah sendiri.

"Kami berharap ketika ada acara-acara di Palembang, masyarakat bisa menggunakan lagu dan joget Palembang sendiri. Seperti daerah lain yang memiliki tarian populer, Palembang juga bisa punya joget yang dikenal luas dan menjadi kebanggaan bersama," tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....