Kasus Diabetes Global Meningkat Dua Kali Lipat dalam 30 Tahun Terakhir
- 14 Nov 2024 09:43 WIB
- Voice of Indonesia
KBRN, Paris: Persentase orang dewasa yang menderita diabetes di seluruh dunia meningkat dua kali lipat dalam tiga dekade terakhir, dengan lonjakan terbesar terjadi di negara-negara berkembang, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Rabu.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal "The Lancet" mengungkapkan sekitar 14 persen orang dewasa di seluruh dunia mengidap diabetes pada 2022, dibandingkan tahun 1990 yang hanya tujuh persen. Dengan mempertimbangkan pertumbuhan populasi global, para peneliti memperkirakan lebih dari 800 juta orang kini hidup dengan diabetes, naik drastis dari kurang dari 200 juta pada 1990.
Data tersebut mencakup dua jenis utama diabetes. Diabetes tipe 1, yang biasanya diderita sejak usia muda, disebabkan oleh kekurangan insulin dan lebih sulit diobati. Sementara itu, diabetes tipe 2 umumnya memengaruhi orang yang lebih tua dan terjadi ketika tubuh kehilangan sensitivitas terhadap insulin.
Meski secara global angka diabetes meningkat, perbedaannya cukup bervariasi di setiap negara. Di beberapa negara maju seperti Jepang, Kanada, serta negara-negara Eropa Barat seperti Prancis dan Denmark, angka diabetes justru stabil atau menurun, menurut laporan penelitian tersebut.
“Beban diabetes dan diabetes yang tidak terobati semakin banyak ditanggung oleh negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah,” tulis laporan itu. Sebagai contoh, hampir sepertiga wanita di Pakistan kini menderita diabetes, dibandingkan kurang dari sepersepuluh pada 1990.
Para peneliti menekankan obesitas merupakan salah satu pemicu utama diabetes tipe 2, selain pola makan yang tidak sehat. Selain itu, kesenjangan dalam pengobatan diabetes antara negara kaya dan negara miskin juga semakin melebar.
Diperkirakan, tiga dari lima orang berusia di atas 30 tahun dengan diabetes—setara dengan 445 juta orang dewasa—tidak menerima perawatan untuk diabetes pada 2022. Hampir sepertiga dari jumlah tersebut berasal dari India. Di Afrika sub-Sahara, hanya sekitar lima hingga 10 persen penderita diabetes dewasa yang menerima perawatan.
Meskipun ada negara berkembang seperti Meksiko yang berhasil memberikan perawatan diabetes bagi warganya, secara keseluruhan kesenjangan global masih semakin membesar. "Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena penderita diabetes di negara berpenghasilan rendah cenderung lebih muda dan berisiko mengalami komplikasi jangka panjang jika tidak mendapatkan perawatan efektif," ungkap penulis utama studi tersebut, Majid Ezzati dari Imperial College London.
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi amputasi, penyakit jantung, kerusakan ginjal, kehilangan penglihatan, hingga kematian dini dalam beberapa kasus, tambah Ezzati dalam pernyataan resminya.
Sumber: AFP
News Recomendation
Loading latest news.....