Kisah Guru di Tengaran, Selesai Mengajar Rela Jadi Sopir Antar Murid Pulang
- 16 Jul 2026 18:31 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang – Demi memastikan murid pulang dengan aman, seorang guru SD Negeri Bener 01, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, rela menjadi sopir mobil antar siswa setiap hari usai mengajar. Layanan tersebut menjadi solusi bagi orang tua yang kesulitan menjemput anak sepulang sekolah.
Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), Gani Prasasti, setiap siang mengemudikan mobil antar sekolah untuk mengantar sekitar 15 hingga 20 siswa ke sejumlah titik di Desa Bener. Mobil bekas angkutan kota itu mulai beroperasi sejak Juni 2026.
Menurut Gani, layanan tersebut merupakan bentuk pelayanan sekolah kepada siswa dan orang tua. Keberadaan mobil antar juga dinilai lebih aman karena lokasi sekolah berada di tepi Jalan Raya Semarang–Solo yang ramai dilalui kendaraan.
Gani mengatakan rute pengantaran telah diatur agar seluruh siswa dapat diantar hingga mendekati rumah masing-masing. Rute terjauh mencapai sekitar tiga kilometer dari sekolah.
"Ada rute yang telah ditentukan untuk dilewati, paling jauh sekira tiga kilometer, itu dua siswa pindahan. Di setiap dusun di Desa Bener ada tiga sampai empat titik turun para siswa," ujarnya, Kamis, 16 Juli 2026.
Menurutnya, layanan antar tersebut merupakan bentuk komitmen sekolah dalam memberikan rasa aman kepada siswa saat perjalanan pulang. Kehadiran mobil antar juga mendapat respons positif dari para orang tua.
"Ini bagian dari fasilitas dan menjamin siswa yang pulang sekolah aman dan selamat sampai rumah. Alhamdulillah tidak pernah ada komplain dari orangtua karena mereka malah sangat terbantu dengan adanya mobil pengantar ini," katanya.
Saat mengantar siswa, Gani tidak bekerja sendiri. Ia dibantu wali kelas I maupun penjaga sekolah yang bertugas mendampingi saat siswa turun di titik pemberhentian.
Kepala SD Negeri Bener 01, Sugiyatno, mengatakan mobil antar tersebut merupakan hasil gotong royong para guru. Kendaraan bekas angkutan umum itu dibeli sekitar Rp20 juta menggunakan dana patungan guru dan koperasi simpan pinjam.
"Mobil tersebut dibeli secara cash, uangnya dari patungan guru-guru, termasuk juga ada yang dari koperasi simpan pinjam, nanti mengangsurnya ke koperasi. Semua dilakukan secara sukarela dan ikhlas," ujarnya.
Ia menjelaskan pengadaan mobil berawal dari hasil survei yang menunjukkan banyak orang tua dapat mengantar anak ke sekolah pada pagi hari, tetapi kesulitan menjemput saat jam pulang karena bekerja. Karena keterbatasan sumber daya, sekolah baru dapat menyediakan layanan antar pulang.
Layanan tersebut tidak dipungut tarif tetap. Setiap kali menggunakan layanan, siswa cukup memberikan uang seikhlasnya, mulai Rp1.000 hingga Rp2.000, yang seluruhnya digunakan untuk biaya operasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....