21 Tahun Mengajar, Miss Mimi Ubah Belajar Bahasa Inggris lewat AI
- 16 Jul 2026 14:26 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Harmi Cahyani mengembangkan KUBIK-FLICO, metode pembelajaran bahasa Inggris yang mengintegrasikan komik digital interaktif, AI, dan kearifan lokal Kubu Raya untuk meningkatkan engagement siswa.
- KUBIK-FLICO dirancang inklusif dan fleksibel lintas level kemampuan siswa, dengan karakter komik yang namanya diambil dari murid-murid di kelas sehingga meningkatkan antusiasme belajar.
- Inovasi ini telah meraih penghargaan Video Terbaik dalam Lomba Inovasi Daerah oleh Bappeda-Litbang Kubu Raya pada Mei 2026 dan mendapat dukungan dari berbagai stakeholder pemerintah daerah.
- Pencapaian Harmi Cahyani merupakan hasil dari 21 tahun dedikasi mengajar, dimulai dari daerah 3T tanpa listrik dan sinyal hingga menciptakan inovasi yang mengubah paradigma pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia.
RRI.CO.ID, Pontianak - Juli 2026 menjadi penanda penting bagi Harmi Cahyani. Tepat 21 tahun sudah ia mendedikasikan hidupnya di depan papan tulis, mengajar bahasa Inggris dari satu sekolah ke sekolah lain.
Namun, alih-alih terjebak dalam rutinitas yang monoton, guru inovatif yang kini mengajar di SMP Negeri 4 Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ini justru baru melahirkan sebuah terobosan baru yang mengubah cara murid-muridnya memandang bahasa asing khususnya Bahasa Inggris.
Inovasi itu bernama KUBIK-FLICO (Kubu Raya Innovative Komik-Flip Comic). Sebuah metode pembelajaran bahasa Inggris yang memadukan komik digital interaktif, teknologi kecerdasan buatan (AI), serta penguatan literasi dan numerasi yang dibalut erat dengan kearifan lokal.
Akrab disapa Miss Mimi, ia menjelaskan Ide KUBIK-FLICO sebenarnya bukan barang baru di kepalanya. Bertahun-tahun lalu, benih ide ini muncul saat ia memperhatikan anak-anaknya di rumah yang begitu lahap melahap seri komik edukasi asal Korea Selatan. Komik-komik tersebut mampu mengemas materi sains dan sejarah yang berat menjadi visual cerita yang seru.
"Saya sempat berpikir, seru kali ya kalau membuat komik bahasa Inggris untuk murid-murid saya. Tapi waktu itu saya pendam bertahun-tahun karena saya bukan ilustrator atau komikus. Saya tidak punya ilmunya," katat Mimi ketika diwawancarai, Kamis, 16 Juli 2026.
Titik balik itu akhirnya datang ketika Dinas Pendidikan Kabupaten Kubu Raya menjembatani sebuah pelatihan tentang pemanfaatan AI di ruang kelas. Bak gayung bersambut, Mimi langsung menyelami teknologi tersebut. Tak puas sampai di situ, ia giat berburu berbagai pelatihan daring gratis demi menyempurnakan impian lamanya.
Pada September 2025, Mimi mulai mengembangkan KUBIK-FLICO. Sebulan kemudian, komik digital ini resmi diuji coba kepada murid kelas 7 di SMPN 4 Sungai Ambawang. Hasilnya? Luar biasa. Anak-anak begitu antusias, apalagi Mimi dengan cerdik menggunakan karakter komik yang wajah dan namanya diambil dari murid-muridnya sendiri di kelas. Hasil post-test pun menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas berbasis teks.
Salah satu kekuatan utama KUBIK-FLICO adalah jiwanya yang sangat "Kubu Raya". Mimi sengaja memasukkan unsur makanan khas, cerita rakyat, seni musik, seni tari, hingga destinasi wisata lokal ke dalam alur cerita komik. Bagi Mimi, belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tentang Menara Eiffel atau budaya Barat, melainkan bisa menjadi alat untuk mengenalkan kekayaan daerah sendiri ke dunia luar.
Selain itu, KUBIK-FLICO dirancang sangat inklusif. Saat pertama kali diterapkan, hanya 15,62% murid di kelasnya yang memiliki kemampuan bahasa Inggris di level A2 (sisanya masih berada di level dasar). Mimi pun menyesuaikan konten komiknya dengan kemampuan riil siswa.
"Metode ini sangat fleksibel (lintas level dan lintas mapel). Kalau ada guru Matematika atau Sejarah di sekolah lain yang muridnya sudah di atas rata-rata, mereka bisa dengan mudah mereplikasi dan menyesuaikan tingkat kesulitannya ke dalam bentuk komik," ujarnya.
21 Tahun Menempa Diri: Dari Sampan Pulau Maya hingga Apresiasi Daerah
Ketangguhan Mimi dalam mengajar tidak tumbuh dalam semalam. Sebelum berada di posisinya sekarang, ia memulai karier sebagai guru honorer (2005–2014) di SDN 58 Teluk Mulus. Garis nasib kemudian membawanya ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) tanpa listrik dan sinyal di SMPN 4 Pulau Maya, Kayong Utara.
Di Pulau Maya itulah mental guru tangguh Mimi benar-benar diuji. Ia mengenang masa-masa unik ketika jumlah muridnya pernah hanya dua orang di kelas.
"Banyak banget kenangan di sana. Saya ini tidak bisa berenang. Suatu hari saat diturunkan dari speedboat, murid-murid saya dengan baik hatinya menjemput saya menggunakan sampan di tengah laut agar gurunya ini tidak tenggelam," ucap Mimi sambil tersenyum hangat.
Perjalanan lalu berlanjut ke SMPN 3 Simpang Hilir, hingga akhirnya ia berlabuh di Kubu Raya.
Kini, kerja keras dan konsistensi Mimi selama dua dekade berbuah manis. KUBIK-FLICO yang terus ia kembangkan hingga Mei 2026 kemarin baru saja menyabet penghargaan sebagai Video Terbaik dalam Lomba Inovasi Daerah oleh Bappeda-Litbang Kubu Raya.
Dukungan pun mengalir deras. Mulai dari Kepala Dinas Pendidikan Sy. Muhammad Firdaus, Bupati Kubu Raya Bapak Sujiwo, hingga mantan Bupati Muda Mahendrawan yang secara khusus mengapresiasi dan mendorong agar inovasi ini segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)-nya. Dukungan moral dari Kepala Sekolah serta rekan-rekan guru di SMPN 4 Sungai Ambawang juga membuatnya kerap merasa haru.
Meski banjir pujian, Mimi tetaplah seorang guru yang membumi. Baginya, rasa "duka" atau kecemasan terbesar justru muncul dari dalam dirinya sendiri yang selalu merasa KUBIK-FLICO belum sempurna. "Masih banyak PR bagi saya agar inovasi ini bisa semakin dikenal luas dan memberikan manfaat yang lebih besar untuk guru-guru dan murid-murid lain di luar sana," kata Mimi dengan nada optimis.
Baca juga: Anak Muda Pontianak Antusias Sambut "English Corner Pro 2"
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....