Air Mata Haru Murni Keluarga Prasejahtera Lepas Putrinya ke Sekolah Rakyat Sragen
- 14 Jul 2026 22:29 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN – Di tengah teriknya siang, gurat lelah di wajah Murni (39) mendadak luruh. Matanya berkaca-kaca, bukan karena beban hidup yang selama ini menghimpitnya, melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Langkah kakinya terasa lebih ringan saat mengantar putri sulungnya, Septiana Selfi Syafira, memasuki gerbang Sekolah Rakyat Sragen.
Bagi Murni, warga Gemolong yang sehari-hari menyambung hidup dari mencari barang bekas (rosok), pendidikan tinggi untuk anaknya sempat terasa seperti mimpi yang terlalu mahal. Namun hari itu, mimpi tersebut menjadi nyata lewat sistem boarding school gratis yang dihadirkan pemerintah.
Kehidupan Murni jauh dari kata mapan. Jangankan memikirkan biaya sekolah berasrama, untuk tempat tinggal pun ia harus menumpang di rumah saudaranya. Kondisi fisiknya yang kini tak lagi seprima dulu membuatnya tak bisa bekerja mencari penghasilan tetap.
"Saya kan tidak punya rumah, Mas, numpang di tempat saudara. Kalau dulu bisa kerja, sekarang enggak. Saya sukanya nyari rosok. Suami saya kerjanya kuli bangunan sama tebang tebu. Buat makan aja susah," cerita Murni dengan suara bergetar, saat dijumpai di Sekolah Rakyat Sragen, Selasa 14 Juli.
Penghasilan suaminya yang tidak menentu—sering kali di bawah Rp 1.000.000 per bulan—membuat keluarga ini harus memutar otak setiap hari hanya demi sesuap nasi. Ketika Septiana lulus dari SD Genengduwur 2, kecemasan sempat melanda benak Murni. Jika tidak ada keajaiban, masa depan pendidikan sang anak berada di ujung tanduk.
Keajaiban itu datang lewat informasi dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Mbak Nani, serta uluran tangan Dinas Sosial Kabupaten Sragen. Septiana, yang dikenal cerdas dan selalu menyabet peringkat pertama di kelasnya meski di tengah keterbatasan, mendapat tawaran emas untuk melanjutkan sekolah gratis di Sekolah Rakyat dengan sistem asrama.

Bagi Murni, program ini adalah jawaban atas doa-doanya yang tak terputus. Di tengah keputusasaannya, ia sempat membujuk sang putri agar mau memanfaatkan kesempatan langka ini.
"Saya bujuk anaknya, 'Kasihan Emak, Emak udah enggak bisa kerja. Bapak aja buat makan aja susah. Kalau Emak masih bisa kerja, Nak, enggak apa-apa,' gitu," kenang Murni mengingat masa-masa sulit itu.
Rasa terima kasih yang mendalam tak henti-hentinya diucapkan Murni kepada para pemimpin dan pihak yang telah membuka jalan bagi masa depan anaknya.
"Saya bersyukur banget sama Pak Prabowo Subianto, terima kasih banyak. Allah telah mengirim Pak Prabowo. Dibikinin Sekolah Rakyat gratis, bersyukur banget saya, Mas. Beserta Pak Menteri, jajarannya, Pak Bupati, Pak Sigit, Dinas Sosial, dan pendamping PKH yang sudah membantu kami orang tidak punya ini," ucapnya tulus.
Kini, Septiana tidak hanya mendapatkan fasilitas pendidikan dan asrama gratis, tetapi juga kesempatan untuk mengubah garis nasib keluarganya. Sebagai anak berprestasi, berada di lingkungan boarding school diharapkan mampu mengasah potensinya secara maksimal.
Saat ditanya mengenai harapannya untuk sang putri, Murni tidak meminta hal yang muluk-muluk. Ia hanya ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan bermanfaat.
"Saya berharap semoga Septiana di sini dididik rajin salat, rajin ibadah, belajar yang giat, dan patuh sama guru. Semoga apa yang jadi cita-citanya tercapai, berguna bagi nusa, bangsa, dan agama," tutup Murni dengan senyum merekah, menatap optimis masa depan putrinya yang kini terbentang luas. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....