Saat Data, AI, dan Kepercayaan Menentukan Masa Depan Jurnalisme

  • 10 Jul 2026 20:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Industri media sedang berada di titik balik paling mendasar sejak era digital dimulai. Transformasinya bukan sekadar migrasi dari radio, koran dan televisi ke layar ponsel, melainkan perubahan cara ruang redaksi berpikir. Mulai dari mengandalkan insting menjadi mengandalkan sains.

Hal itu mengemuka dalam Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina bertajuk “THE FUTURE IS COLLABORATIVE: Sustaining Our Energy” di Banyuwangi, Jumat, 10 Juli 2026.

"Naluri jurnalistik tetap penting, tapi kini harus diperkuat data, teknologi, dan pemahaman perilaku audiens,” tegas Wenseslaus Manggut, Chief Content Officer KapanLagi Youniverse (KLY), saat memaparkan materi Jurnalistik The Science Behind the Shift di hadapan puluhan awak media dari Tuban, Bojonegoro, Gresik, Surabaya, Rembang, Blora, Banggai, hingga Sorong.

Ia menyampaikan, dulu, keputusan editorial lahir dari pengalaman dan intuisi. Kini, redaksi punya dasbor real time, kapan pembaca membuka berita, lewat perangkat apa, dari kanal mana mereka datang, hingga seberapa dalam mereka membaca.

“Data bukan pengganti editor. Editor tetap menentukan nilai berita. Data membantu menyampaikan informasi itu lebih efektif,” ujar Wenseslaus.

Perilaku audiens telah berubah, dan media harus ikut beradaptasi. Wenseslaus Manggut memaparkan data Reuters Digital News Report yang menunjukkan platform sosial dan video kini menjadi sumber utama masyarakat mengakses berita (Foto: RRI/ Ermina)

Menurutnya, pergeseran ini tak lepas dari berubahnya cara publik mengonsumsi informasi. Jika dulu audiens aktif mendatangi media, kini berita yang mendatangi mereka melalui algoritma Google, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, hingga WhatsApp.

Digital News Report Reuters Institute mencatat pergeseran itu. Dimana 54% responden kini memilih platform sosial & video sebagai sumber berita utama, naik 3% dari tahun lalu. Sementara WhatsApp memimpin dengan 56% disusul YouTube 47%, Facebook 44%, TikTok 43%, dan Instagram 34%.

"Di tengah banjir konten, media tak lagi hanya bersaing dengan sesama pers. Lawannya kini content creator, podcaster, hingga influencer. Di era digital, attention adalah komoditas paling berharga,” kata Wenseslaus.

Karena itu, Wenseslaus menilai metrik keberhasilan media harus berubah. Klik hanya mencerminkan rasa penasaran awal. Kualitas jurnalistik justru terlihat dari dwell time, recirculation rate, return visitor, dan scroll depth, apakah pembaca benar-benar mengonsumsi, bukan sekadar lewat.

Ia mengakui creator unggul dalam membangun kedekatan. Ini terlihat dari bahasa yang sederhana, visual menarik, hingga komunikasi personal. Tapi media arus utama punya benteng yang tak tergantikan, yakni verifikasi, independensi, penyuntingan berlapis, dan kode etik.

“Adaptasi teknik bercerita itu perlu. Tapi akurasi dan kredibilitas tidak boleh dikorbankan.”ujarnya.

Wenseslaus melihat AI sebagai peluang, bukan ancaman. AI bisa memangkas kerja teknis, seperti membantu transkripsi wawancara, analisis data, analisis sentimen, ringkasan, hingga optimasi SEO.

“Jurnalis jadi punya lebih banyak waktu untuk liputan, investigasi, dan pendalaman isu.”katanya.

Tapi ada batasnya. AI belum bisa mengambil keputusan editorial, membangun kepercayaan dengan narasumber, memahami konteks sosial, atau menimbang etika.

“Peran itu tetap milik manusia.” lanjutnya.

Ia juga menyoroti publisher rights. Karya jurnalistik harus dilindungi agar tak dimanfaatkan sepihak oleh platform digital global tanpa imbal ekonomi yang adil bagi pers.

Bagi jurnalis, The Science Behind the Shift adalah pengingat: teknologi tak menghapus esensi profesi.

Data membantu memahami audiens dan mengukur efektivitas konten. Tapi data tak bisa menentukan mana informasi yang penting bagi publik, dan mana yang hanya memuaskan rasa ingin tahu sesaat.

“Kompetensi jurnalis kini bertambah,” kata Wenseslaus. “Bukan cuma meliput dan menulis, tapi juga membaca analitik, distribusi multiplatform, SEO, dan AI yang bertanggung jawab.” katanya.

Ia menambahkan, Content creator bukan musuh, melainkan tantangan untuk berinovasi. Pembeda media profesional tetap pada verifikasi, akurasi, independensi, dan kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik.

CEO Suara.com, Suwarjono, memaparkan strategi agar media lokal tetap relevan di era AI. Menurutnya, media harus memiliki "wajah manusia" karena yang akan bertahan bukan media terbesar, melainkan media yang paling dipercaya (Foto: RRI/ Ermina)

Media Lokal: Saatnya Jadi ‘Local Intelligence Hub'

Transformasi ini terasa lebih berat bagi media lokal. CEO Suara.com, Suwarjono, pada kesemoatan itu, menyebut ada tiga tantangan sekaligus. Yakni disrupsi, efisiensi, dan keberlanjutan.

“Trafik digital anjlok, bahkan zero click. Gen Z dan Alpha tak lagi buka media konvensional. Iklan Pemda hilang, iklan digital turun, sementara platform ambil trafik dan iklan,” paparnya.

Lantas bagaimana solusinya? “Media tidak bisa lagi hanya jadi Perusahaan Media yang mengandalkan iklan. Harus jadi Perusahaan Pengetahuan,” tegas Suwarjono.

Formulanya adalah Berita + Konteks + Data + FAQ = Pengetahuan.

"Media harus mengelola komunitas, bikin event, jadi explainer, analisis, database, hingga panduan." Jelasnya.

Lebih jauh, ia mendorong media lokal berevolusi menjadi Local Intelligence Hub, bukan sekadar pemberi berita, tapi pusat data lokal, pusat percakapan publik, pusat komunitas, hingga business intelligence regional.

“Yang menang bukan media terbesar. Yang menang adalah media paling dipercaya. Di era AI, konten makin banyak tapi trust makin mahal. Kepercayaan adalah aset terbesar media lokal,” ujarnya.

Suwarjono melanjutkan, bahwa unntuk bertahan, media lokal harus melirik pendapatan di luar iklan. Seperti menjadi event organizer, rumah produksi, digital creative, training berbayar, monetisasi Content AI seperti media monitoring, riset pasar, survei opini, social listening, hingga policy brief.

"Model lainnya bisa dilakukan melaluinsocial media handling untuk bisnis lokal, donasi, crowdsourcing, kolaborasi liputan hibah dengan NGO, konten berbayar, subscriber, KOL/influencer, affiliate, newscommerce, hingga memberikan short course." katanya.

Suwarjono mengingatkan jebakan yang harus dihindari seperti mengejar trafik receh, jadi copy media nasional, menganggap AI musuh, tak punya komunitas, dan tak punya diferensiasi lokal.

"Kesimpulannya, media sosial itu keharusan. Model bisnisnya harus beyond iklan. Kecepatan adaptasi menjadi kunci. Dan data serta komunitas adalah nyawa,” tutupnya.

Dua pandangan dari Wenseslaus dan Suwarjono bertemu di satu titik. Masa depan jurnalisme ditentukan oleh keberanian beradaptasi tanpa mengorbankan integritas. Data dan AI adalah alat untuk memahami audiens dan mempercepat kerja redaksi. Keduanya tak bisa menggantikan keputusan editorial, etika, dan proses verifikasi yang jadi fondasi profesi ini.

Pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling canggih teknologinya, melainkan yang paling dipercaya publiknya. Sebab di tengah banjir informasi, kepercayaan adalah hal paling langka. Dan itu hanya bisa dibangun lewat jurnalisme yang akurat, independen, dan berpihak pada kepentingan publik.

Koordinator Komunikasi SKK Migas, Arief Hermawan, memaparkan hasil Media Monitoring Januari–Juni 2026. Sebanyak 12.560 pemberitaan mengenai SKK Migas dan industri hulu migas berhasil dimonitor, dengan 98 persen bernada positif dan netral (Foto: RRI/ Ermina)

Sejalan dengan itu, media memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik. Karena itu, kualitas pemberitaan akan sangat memengaruhi tingkat pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap industri hulu migas nasional.

Menurut Koordinator Komunikasi SKK Migas, Arief Hermawan, untuk memperkuat hubungan dengan media, SKK Migas secara rutin menyelenggarakan berbagai program komunikasi, mulai dari siaran pers, konferensi pers, media briefing, media education, media visit, hingga doorstop. Informasi kepada publik juga disebarluaskan melalui berbagai kanal digital, termasuk akun media sosial resmi, situs web, dan Buletin Bumi.

"Kami memantau semua kanal, dari media massa sampai digital. Harapannya, kolaborasi dengan media bisa membantu kami menyampaikan potensi migas Indonesia yang besar ini kepada publik," kata Arief Hermawan.

Data Media Monitoring SKK Migas menunjukkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026 terdapat 12.560 pemberitaan mengenai SKK Migas dan industri hulu migas. Dari jumlah tersebut, sekitar 98 persen bernada positif dan netral, sedangkan dua persen lainnya bersentimen negatif. Volume pemberitaan juga terus meningkat, dari 1.749 berita pada Januari menjadi 2.603 berita pada Juni.

Rangkaian data tersebut mempertegas bahwa transformasi media dan penguatan komunikasi publik harus berjalan beriringan. Di tengah derasnya arus informasi digital, kolaborasi antara industri dan media menjadi semakin penting agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat, berimbang, dan berbasis fakta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....