Sampah Plastik di Maluku Disulap Jadi Sofa Mewah, Awet 20 Tahun

  • 08 Apr 2026 18:43 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Inovasi daur ulang sampah di Maluku kembali melahirkan kejutan. Tak lagi sekadar bean bag, kini hadir Sofa Botik, sofa berbahan baku botol plastik bekas yang kokoh, empuk, dan bernilai ekonomi tinggi. Produk ini digagas oleh Listiyah Tuharea, Direktur Bank Sampah Induk (BSI) Bumi Lestari Maluku.

Di tengah minimnya anggaran pemerintah daerah untuk pengelolaan sampah, Listiyah justru bergerak mandiri. Melalui forum bank sampah yang ia inisiasi, lahirlah terobosan yang mengubah stigma bahwa sampah plastik hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Sofa botik ini terbuat dari botol plastik kosong 1,5 liter. Kami ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa sampah bisa dimanfaatkan kembali tanpa terlihat seperti sampah. Dikemas sedemikian rupa, bahkan warnanya cakep-cakep," ujar Listiyah saat ngobrol di program Green Radio RRI Ambon, Selasa, 7 April 2026.

Bukan Sekadar Sofa Biasa: Ringan Seperti Kapas, Kuat Seperti Baja

Yang membuat Sofa Botik ini istimewa adalah daya tahannya. Listiyah mengklaim produknya bisa bertahan lebih dari 10 tahun, bahkan hingga 20 tahun. Hal ini berbeda dengan produk daur ulang pada umumnya yang hanya bertahan satu atau dua tahun sebelum akhirnya kembali menjadi sampah.

"Visi misi kami adalah mendaur ulang untuk jangka panjang. Sofa botik ini kosong di dalam, tapi rangkaian botolnya kami ikat dengan sangat kuat. Kalau salah merangkai, bisa bengkok dan miring. Jadi butuh ketelitian," jelasnya.

Tak hanya awet, sofa ini juga dirancang untuk kenyamanan. Listiyah mengaku menggunakan spons berkualitas super premium agar empuk sekaligus padat. Bahkan, sofa ini mampu menahan beban hingga 100 kilogram.

"Pernah datang tamu dari badan bencana, badannya cukup besar. Dia tidak percaya mau duduk. Saya bilang, 'Silakan duduk, Pak. Ini kuat sampai 100 kilo.' Beliau coba berdiri di atas sofa, dan ternyata kuat. Dari situ kami edukasi lewat pengalaman langsung," kenang Listiyah.

Sofa Botik hasil produksi BSI Bumi Lestari Maluku

Dari Kantor Walikota hingga Pesanan dari Jakarta dan Makassar

Keunikan Sofa Botik ternyata menarik perhatian para pejabat. Beberapa kepala daerah dan instansi sudah membeli produk ini. Bahkan, ada yang memesan dengan warna khas institusi mereka.

"Kemarin Pak Walikota memesan dengan warna merah-hitam (khas Maluku) dan merah-putih (kebangsaan). Cocok untuk kantor. Ada juga dari Pegadaian area Ambon yang minta dibuatkan warna hijau lumut, mendekati warna korporasi mereka," ungkap Listiyah bangga.

Tak hanya lokal, Sofa Botik sudah melanglang buana. "Ada yang dibawa ke Makassar, Jakarta, bahkan Surabaya. Luar biasa peminatnya," tambahnya.

Warna favorit masyarakat umum sendiri, menurut Listiyah, adalah hijau dan kuning. "Mereka suka yang cerah. Tapi kami juga melayani request warna dan motif sesuai keinginan pelanggan," katanya.

Harga Terjangkau, Proses Tidak Sederhana

Untuk satu set sofa yang terdiri dari 4 kursi, Listiyah membanderol harga sekitar Rp3 juta. Sementara untuk satu set dengan 2 kursi, dibanderol Rp2 juta. Meski terlihat minimalis, Listiyah menegaskan harga tersebut sebanding dengan kualitas.

"Mahal sebenarnya di bahan penutup dan spons. Kami tidak mau kompromi. Kalau hanya botol plastik sih murah. Tapi kami ingin barang ini awet. Kalau dibilang mahal dibanding sofa pasar lain? Saya kurang tahu, karena saya tidak pernah hunting. Tapi saya lihat sekilas ada sofa harga Rp5 juta. Kalau kami, ini sebenarnya murah untuk kualitas 20 tahun," terangnya.

Proses pembuatan satu set sofa memakan waktu sekitar 3 hari, belum termasuk pengumpulan botol yang mencapai seminggu. "Botol yang dipakai harus yang 1,5 liter dan tidak penyok. Makanya penting pemilahan dari rumah. Nasabah bank sampah kami setor dalam kondisi sudah bersih," imbuhnya.

Bukan Sekadar Jualan, Tapi Membangun Ekonomi Sirkular

Bagi Listiyah, Sofa Botik hanyalah salah satu dari sekian banyak produk daur ulang yang dikelola BSI Bumi Lestari. Ada pula bean bag, bantal, tas, lilin, hingga sabun. Semua produk ini dikumpulkan dalam wadah UMKM daur ulang.

Tujuan utamanya bukan sekadar profit, melainkan mengumpulkan pundi-pundi untuk membangun learning center, pusat pelatihan pengolahan sampah.

"Kami ingin masyarakat bisa belajar di sana tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Karena kalau masyarakat lihat langsung sofa ini, saya yakin mereka bilang, 'Saya mau, Bu. Saya ingin seperti itu,'" tuturnya.

Ke depan, Listiyah bermimpi mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi bisnis pertanian dan peternakan. "Tanpa inovasi seperti sofa botik, kami tidak akan bisa bertahan hingga sekarang. Ini adalah mesin ekonomi kami untuk membiayai kegiatan sosial dan lingkungan," tegasnya.

Meski mengaku belum mencapai target pengurangan sampah secara signifikan di kota Ambon, Listiyah tetap optimis. "Kami berusaha mandiri, tidak ingin memberatkan pemerintah karena kami tahu anggaran minim. Tapi kami tetap berharap kolaborasi. Karena ini pekerjaan kita semua, hasilnya juga dinikmati kita semua," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....