Dimsum Jalan Terban Ramai Diserbu Pembeli Malam

  • 03 Apr 2026 17:56 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Lapak dimsum “Dimsumin” di kawasan Jalan Terban, dekat kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), menjadi salah satu titik kuliner yang ramai diserbu pembeli, terutama pada jam-jam tertentu di sore hingga malam hari. Aktivitas penjualan yang konsisten menunjukkan geliat usaha mikro yang memanfaatkan lokasi strategis di tengah keramaian kota pelajar.

Rendra Ramadhan penjual dimsum tersebut, mengungkapkan bahwa lonjakan pembeli biasanya terjadi dalam dua gelombang waktu. Pada hari biasa, puncak pertama terjadi antara pukul 16.00 hingga 19.00 WIB. “Kalau untuk ramenya sendiri, kita kisaran dari hari biasa di antara jam 4 sampai jam 7 malam. Itu puncak-puncak ramenya,” ujarnya.

Dimsum hangat mengepul di Jalan Terban, jadi favorit mahasiswa hingga wisatawan. (Foto: Isna Fitri Wahyuni)

Setelah itu, gelombang kedua kembali terjadi pada malam hari, yakni sekitar pukul 21.00 hingga 23.00 WIB. Menurut Rendra, pola ini cukup konsisten dan dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat di sekitar lokasi. “Kemudian nanti ada gelombang kedua ramenya dari jam 9 sampai jam 11 malam,” katanya.

Dari sisi konsumen, lapak ini menarik berbagai kalangan. Pada sore hari, mayoritas pembeli berasal dari pekerja kantoran, mahasiswa, serta masyarakat sekitar yang baru pulang beraktivitas. Sementara pada malam hari, pembeli lebih didominasi oleh anak muda yang mencari camilan setelah berbelanja di minimarket terdekat.

Selain ramai pembeli lokal, Rendra juga mengaku sering bertemu dengan wisatawan mancanegara. Ia menceritakan pengalaman unik saat berinteraksi dengan mahasiswa asing yang sedang menempuh studi di Yogyakarta. “Kita ketemu sama turis, khususnya mahasiswa Jepang yang datang ke UGM untuk belajar. Mereka justru lebih lancar berbahasa Indonesia daripada kita,” ucapnya.

Dimsum hangat siap santap di Jalan Terban—favorit mahasiswa hingga wisatawan. Ramai di dua waktu, sore dan malam, “Dimsumin” jadi bukti kuliner sederhana bisa selalu diburu. (Foto: Isna Fitri Wahyuni)

Tak hanya dari Jepang, pembeli asing juga datang dari berbagai negara seperti Prancis dan Amerika. Interaksi lintas budaya ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi pelaku usaha kecil di kawasan tersebut. Bahkan, dalam beberapa situasi, Rendra justru harus menggunakan bahasa Inggris saat berkomunikasi dengan pelanggan asing.

Rendra menilai pemilihan lokasi di Jalan Terban bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi pasar yang kuat bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah(UMKM), terutama karena berada di depan minimarket yang ramai serta lingkungan yang dipenuhi pedagang.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa persaingan tetap menjadi tantangan utama. “Yang terbesar di sini, kita lebih ke mengganggu market. Meskipun tempat rame, kalau tidak punya kemampuan marketing, pedagang tidak akan berkembang,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....