Industri Pengolahan Unggul, Neraca Perdagangan Surplus 71 Bulan Beruntun

  • 06 Mei 2026 10:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Industri pengolahan dorong surplus neraca perdagangan Indonesia selama 71 bulan berturut-turut.
  • Surplus Maret 2026 mencapai 3,32 miliar dolar AS ditopang kinerja ekspor nonmigas.
  • Amerika Serikat, India, dan Filipina jadi penyumbang surplus terbesar, sementara Tiongkok masih defisit.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut sektor industri pengolahan terus memperkuat daya saing ekspor. Budi mengatakan performa manufaktur tersebut berhasil menjaga tren surplus neraca perdagangan Indonesia selama 71 bulan.

Neraca perdagangan pada periode Maret 2026 kembali mencatatkan kinerja positif sebesar 3,32 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Capaian ini menunjukkan ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap stabil di tengah berbagai dinamika global.

Sektor nonmigas tercatat menyumbang angka surplus sebesar 5,21 miliar dolar AS pada Maret 2026. Sementara itu, sektor minyak dan gas bumi (migas) masih mengalami defisit senilai 1,89 miliar dolar AS.

“Surplus yang terus berlanjut pada periode Maret 2026 ini menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap kuat. Indonesia tetap menjaga surplus bulanannya,” ujar Budi di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Secara kumulatif Januari hingga Maret 2026, surplus perdagangan Indonesia telah mencapai angka 5,55 miliar dolar AS. Nilai tersebut berasal dari kelebihan ekspor nonmigas yang mencapai total 10,63 miliar dolar AS.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat komoditas lemak serta minyak hewani merupakan penyumbang surplus terbesar. Nilai ekspor pada kategori tersebut mencapai angka signifikan sebesar 8,68 miliar dolar AS.

Bahan bakar mineral menempati posisi kedua dengan nilai surplus sebesar 6,22 miliar dolar AS. Komoditas besi dan baja turut menyumbang angka positif senilai 4,29 miliar dolar AS.

Amerika Serikat tercatat sebagai mitra dagang yang memberikan kontribusi surplus nonmigas terbesar bagi negara Indonesia. Nilai perdagangan dengan negara tersebut menghasilkan surplus mencapai angka 5,06 miliar dolar AS.

Surplus perdagangan terbesar berikutnya berasal dari negara India dengan perolehan sebesar 3,36 miliar dolar AS. Negara Filipina juga memberikan kontribusi positif senilai 2,05 miliar dolar AS pada periode tersebut.

Budi menjelaskan bahwa Indonesia masih mengalami defisit nonmigas cukup dalam saat melakukan perdagangan dengan negara Tiongkok. Nilai kekurangan ekspor dibandingkan impor dari negara tirai bambu itu tercatat sebesar 5,52 miliar dolar AS.

Defisit perdagangan nonmigas Indonesia selanjutnya dialami dengan negara Australia senilai 2,38 miliar dolar AS. Negara Prancis juga mencatatkan angka defisit sebesar 0,63 miliar dolar AS pada periode berjalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....