Diplomasi Kreatif, Novel Gadis Kretek Bahasa Korea Pacu Promosi Produk Kreatif RI
- 15 Apr 2026 15:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peluncuran Gadis Kretek versi bahasa Korea dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi ekonomi kreatif di Korea Selatan.
- Kegiatan ini menjadi sarana promosi produk unggulan Indonesia seperti kopi, fesyen, dan kerajinan melalui pendekatan budaya.
- Diplomasi literasi dinilai efektif memperkuat hubungan bilateral sekaligus membuka peluang ekspor produk kreatif nasional.
RRI.CO.ID, Seoul - Atase Perdagangan (Atdag) RI Seoul Roesfitawati mendorong penguatan diplomasi ekonomi kreatif di Korea Selatan. Peluncuran novel Gadis Kretek dalam bahasa lokal menjadi strategi utama meningkatkan ekspor subsektor penerbitan nasional.
Roesfitawati menilai karya sastra ini berfungsi sebagai instrumen soft diplomacy negara yang sangat efektif saat ini. Momentum tersebut juga digunakan untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan Indonesia lainnya kepada konsumen mancanegara.
“Peluncuran novel Gadis Kretek di Korea Selatan merupakan kegiatan literasi sekaligus instrumen soft diplomacy. Kegiatan ini juga menjadi sarana nation branding dan pintu masuk ekspansi produk Indonesia bernilai tambah seperti makanan, minuman, kerajinan, fesyen, dan pariwisata,” ujar Roesfitawati di Seoul, Rabu, 15 April 2026.
Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk Korea Selatan Cecep Herawan menyebut literatur sebagai jembatan pemahaman antarnegara. Penerbitan buku ini membuktikan komitmen bersama dalam memperluas pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea.
Pemerintah optimistis bahwa narasi yang kuat dapat meningkatkan eksposur produk kreatif Indonesia secara global. Cecep berharap kolaborasi ini mempererat hubungan bilateral kedua negara melalui sektor ekonomi kreatif.
“Karya sastra dapat menjadi jembatan untuk membangun pemahaman antar masyarakat kedua negara. Penerbitan novel ini bukan sekedar penerjemahan karya sastra, tetapi juga simbol komitmen bersama untuk memperluas pertukaran budaya Indonesia dan Korea,” kata Cecep.
Atdag RI Seoul turut mempromosikan kopi Gayo premium dalam momen tersebut. Produk kopi dipilih karena memiliki potensi pasar yang sangat besar bagi konsumen di Korea.
Kopi asal Provinsi Aceh ini memiliki keunggulan pada tekstur lembut yang sangat disukai masyarakat Korea. Roesfitawati menggunakan teknik penceritaan sejarah yang menarik guna menarik minat pembeli di segmen kopi spesial.
“Kopi Gayo dipilih karena telah memiliki reputasi global di segmen premium kopi specialty. Popularitas kopi gayo di Korea Selatan juga didukung storytelling yang menarik, yaitu tentang sejarah Provinsi Aceh sebagai wilayah dengan identitas budaya autentik,” kata Roesfitawati.
Chairperson HansaeYes24 Foundation Baek Sumi menganggap publikasi karya sastra Asia Tenggara sangat penting saat ini. Literatur dapat memperkaya dialog budaya serta memperluas perspektif para pembaca di negara Korea Selatan.
Baek Sumi menekankan bahwa pemahaman lintas budaya akan terbentuk melalui pertukaran karya tulis yang konsisten. Ia mengatakan Korea Selatan perlu membuka diri terhadap keragaman nilai budaya yang ditawarkan oleh sastra dari Indonesia.
“Pertukaran budaya melalui literatur dapat memperluas perspektif pembaca dan memperkuat pemahaman lintas budaya. Sastra Asia Tenggara memiliki nilai penting dalam memperkaya dialog budaya di Korea Selatan,” ujar Baek Sumi.
Total perdagangan Indonesia dan Korea Selatan mencapai angka 3 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) pada awal 2026. Indonesia berhasil mencatatkan surplus perdagangan sebesar 326,5 juta Dolar Amerika Serikat (AS) pada periode tersebut.
Nilai pengiriman kopi ke Negeri Ginseng melonjak drastis hingga angka 42,19 persen sepanjang tahun 2025 lalu. Saat ini Indonesia menempati urutan ke-14 sebagai pemasok komoditas kopi terbesar di pasar Korea Selatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....