Tekanan Inflasi Sumsel Meningkat, Dipicu Emas dan Tarif Listrik
- 03 Mar 2026 09:58 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Tekanan inflasi di Sumatera Selatan menunjukkan tren peningkatan signifikan pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi tahunan (year-on-year) pada Februari 2026 menembus angka 4,36 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,82.
Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran utama, terutama pada sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melambung hingga 22,93 persen, serta kelompok perumahan, air, dan listrik yang naik 14,53 persen. Secara bulanan (month-to-month), Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,58 persen.
Baca juga: Inflasi Sumatera Selatan Terkendali, Ekonomi Daerah Tetap Stabil
Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, mengungkapkan, pergerakan harga emas perhiasan di pasar global menjadi andil terbesar dalam inflasi kali ini,. Selain emas, kenaikan tarif listrik juga memberikan tekanan yang cukup kuat terhadap daya beli masyarakat.
"Inflasi tahun ke tahun yang sebesar 4,36 persen ini tercatat polanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi yang sama di tahun 2025 lalu," ujar Wahyu dalam pernyataan resminya, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena low base impact. Pada Februari 2025, pemerintah sempat memberlakukan diskon tarif listrik hingga 50 persen, sehingga angka perbandingan tahun ini terlihat melonjak tajam saat tarif kembali normal,.
Wahyu juga memberikan peringatan dini terkait potensi tekanan inflasi yang lebih besar dalam waktu dekat. "Perlu menjadi antisipasi bahwa pemberlakuan tarif 100 persen lagi itu pada Maret dan April. Untuk itu, diperhatikan bahwa akan terjadi peningkatan tekanan inflasi pada bulan Maret dan April," tegasnya.
Baca juga: Inflasi Sumsel November Melandai Jadi 2,91 Persen
Selain faktor energi dan perhiasan, komoditas pangan juga mulai merangkak naik akibat faktor cuaca yang mengganggu pasokan hortikultura. Cabai merah, daging ayam ras, tomat, bawang merah, dan beras menjadi penyumbang utama inflasi di sektor makanan.
Di tingkat wilayah, Kabupaten Muara Enim mencatatkan inflasi tahunan tertinggi di Sumsel mencapai 4,69 persen. Sementara itu, tingkat inflasi terendah berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan angka 4,09 persen.
Meski dibayangi kenaikan harga, terdapat sedikit angin segar dari sektor transportasi. Kebijakan penurunan harga beberapa jenis BBM dan diskon tiket pesawat berhasil memberikan andil deflasi, sehingga sedikit mengerem laju inflasi lebih dalam,. Pemerintah daerah kini terus berupaya melakukan stabilisasi harga melalui gerakan pasar murah dan operasi pasar untuk menjaga pasokan tetap aman di tengah gejolak cuaca.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....