Rupiah Ditutup Menguat, Ditopang Sentimen Data Inflasi AS

  • 15 Jul 2026 19:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,13 persen atau 23 poin ke posisi Rp18.068 per dolar AS dalam penutupan perdagangan
  • Perkembangan konflik Aas-Iran serta data inflasi Amerika Serikat juga mempengaruhi sentimen di pasar valuta asing
  • Utang Luar Negeri Indonesia pada Mei 2026 tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan di bulan April

RRI.CO.ID, Jakarta - Penguatan nilai tukar rupiah berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,13 persen atau 23 poin ke posisi Rp18.068 per dolar AS.

AS dan Iran yang masih saling serang serta penutupan Selat Hormuz, masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar. Data inflasi Amerika Serikat juga mempengaruhi sentimen di pasar valuta asing.

"Kenaikan ketegangan AS-Iran dalam beberapa hari terakhir meningkatkan keraguan pasar akan perdamaian permanen. Apalagi perang sudah melebar ke negara-negara tetangga," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu, 15 Juli 2026

Sementara itu, data Indeks Harga Konsumen di AS untuk bulan Juni meleset dari perkiraan. Inflasi turun dari 4,2 persen di bulan Mei menjadi 3,5 persen secara tahunan di bulan Juni.

"Angka inflasi di bulan Juni di bawah perkiraan perlambatan sebesar 3,8 persen.Perkembangan ini mengindikasikan kenaikan suku bunga agresif oleh the Fed saat ini tidak diperlukan," ujar Ibrahim.

Inflasi inti juga turun dari 2,9 persen di bulan Mei, menjadi 2,6 persen di bulan Juni. Angka inflasi inti juga di bawah perkiraan sebesar 2,8 persen.

"Sehingga para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga the Fed. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Juli turun menjadi 16 persen dari 40 persen," kata Ibrahim

Sedangkan peluang kenaikan suku bunga pada bulan September turun menjadi 60 persen dari 74 persen. Menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed, membuat dolar AS melemah dan membuka peluang penguatan rupiah.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati kemungkinan pelebaran defisit APBN karena kebutuhan pembiayaan utang yang meningkat. Kebutuhan penarikan utang baru secara bruto pada tahun ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun.

Berdasarkan outlook pemerintah, defisit APBN 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,32 triliun. Seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan anggaran, dengan pembiayaan utang neto diperkirakan mencapai Rp868,12 triliun.

Sementara itu, pemerintah harus membayar pokok utang sekitar Rp 900 triliun tahun ini. Posisi utang pemerintah pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp9.638 triliun.

"Dengan tambahan pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah, nilai utang meningkat. Jumlahnya menjadi Rp 100 triliun, dan posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai Rp10.600 triliun," ujar Ibrahim.

Rilis Bank Indonesia hari ini menyebut Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 sebesar USD444,4 miliar. ULN tumbuh 2,1 perse secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 sebesar 2,0 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....